Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Thursday, 29 March 2018

Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam dan Peradaban.

Sumber Foto : http://daddhans75.blogspot.co.id/2014/


Dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi, Nabi Muhammad SAW bersabda “ Kun ‘Aaliman, aw Muta’alliman, aw Mustami’an, Aw Muhibban, wala takun Khamisan, Fatahlik” (H.R Baihaqi). Hadits diatas berisi empat perintah yang diantaranya menjadi ‘Aliman, atau Muta’lliman, atau Mustami’an, atau menjadi Muhibban dalam konteks ilmu pengetahuan. Sebaliknya kita dilarang menjadi yang kelima atau tidak menjadi yang empat tersebut, “fatahlik”, maka kamu akan celaka.

Menjadi ‘Aaliman artinya kita diperintahkan menjadi orang yang berilmu, seperti menjadi guru, dosen, ustad, kiayi atau berbagai bentuk tenaga pendidik lainnya. Jika tidak menjadi ‘Aaliman, maka kita diperintahkan menjadi Muta’alliman. Menjadi Muta’alliman memiliki makna bahwa kita diperintahkan untuk menjadi penuntut ilmu seperti menjadi siswa, mahasiswa, atau santri di sekolah-sekolah dan pondok pesantren. Jika tidak menjadi dua yang diatas, maka jadilah Mustami’an atau pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik dapat dilakukan dengan senang mendengarkan majelis-majelis keilmuan, tausyiah, atau seminar-seminar keilmuan.

Terdapat perbadaan antara menjadi muta’alliman dengan menjadi mustami’an. Kalau muta’alliman, ia akan mencatat segala apa yang didengarnya. Sedangkan mustami'an, Ia hanya akan mendengarkan saja dan menggunakan akalnya untuk menyerap apa yang didengarnya tersebut. Tentu menjadi Muta’alliman adalah yang lebih baik. Selanjutnya, jika tidak bisa menjadi ‘Aaliman, Muta’alliman, atau Mustami’an, setidaknya jadilah Muhibban, yaitu pecinta ilmu. Pecinta ilmu dapat dilakukan dengan menyukai orang yang ‘Aalim, tidak menjadi pembenci majelis-majelis ilmu atau bahkan menjadi donator bagi terselenggaranya majelis-majelis keilmuan tersebut.

Dari keempat tingkatan keilmuan diatas, tentu ‘Aaliman adalah yang terbaik. Dengan menjadi ‘Aaliman, sejatinya kita telah melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada orang lain. Ilmu yang dipelajari tidak hanya menjadi santapan pribadi, tapi juga menjadi manfaat untuk setiap orang yang menerimanya. Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah amal jariah?. Ilmu yang bermanfaat tidak akan putus pahalanya bahkan hingga hayat tak ditanggung badan.

Sebaliknya, kita dilaknat dengan kata “celaka” jika tidak menjadi yang empat tersebut. Sebab, dalam menjalani kehidupan di dunia dan untuk memperoleh bekal di akhirat, ilmu adalah aset berharga yang harus senantiasa dimiliki . Hal ini sejalan dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya “ Siapa yang menghendaki dunia maka dengan ilmu, dan siapa yang menghendaki akhirat maka dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya harus dengan ilmu pula (H.R Tabrani)”. Kita tidak akan bisa menjadi dokter, guru, wartawan, dan menjadi hakim tanpa mempelajari bidang ilmunya. Begitu pula ketika beribadah, amalan hanya akan menjadi sia-sia jika ibadah tersebut hanya ikut-ikutan tanpa dasar ilmu pengetahuan. Bukankah banyak orang yang sholat tetapi tidak faham apa yang dibacanya, sehingga sholatnya tersebut tidak memberikan pengaruh positif bagi kehidupannya. Banyak pula orang yang beribadah, namun ibadahnya tersebut malah menjerumuskan mereka kepada kesesatan. Semua itu disebabkan oleh kefakiran atas ilmu dari ibadah yang mereka jalani. Ilmu dapat menjadi tolak ukur status dan kedudukan seseorang. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki maka semakin tinggi pula status dan kedudukan seseorang di masyarakat. Di dalam Al-Qur’an Surah AL-Mujadalah juga dikatakan bahwa “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S. al-Mujadalah : 11)”.

Peradaban Islam pernah berada dalam masa keemasan, salah satunya pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan masa itu. Hal itu dibuktikan dengan lahirnya tokoh-tokoh ilmuan yang tak hanya terbatas dalam ilmu agama saja, tapi mencakup segala aspek ilmu pengetahuan umum. Di bidang ilmu hadits, lahir Imam Bukhari dengan kitab Shahih Bukharinya, Imam Muslim dengan kitab Shahih Muslim, Abu Dawud dengan kitab Sunan Abu Daud, Ibnu Majah dengan kitab Sunan Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi dengan kitab Sunan Tirmidzinya.

Dibidang ilmu Matematika lahir pula Al-Khawarizmi (194-266 H). yang menyusun buku Aljabar dan menemukan angka nol (0). Ada pula Ibnu Ruysd yang merupakan ahli filsafat yang dikenal dengan sebutan bapak Rasionalisme. Dia terkenal sebagai ahli ilmu hayat, ilmu fisika, ilmu falak, ilmu akhlak dan juga ilmu kedokteran. Karyanya antara lain : Fasul Maqal fima Baina al Hikmati Wasyari’at Minal Ittisal, Bidayatul Mujtahid, Tahafutut Tahafud, dan Fikih. Karangan beliau hingga kini masih banyak dijumpai di perpustakaan Eropa dan Amerika. Tidak kalah pula di bidang ilmu kedokteran, lahir Ibnu Sina dengan karyanya “Al-Qanun Fi Al-tib” yang dijadikan buku pedoman kedokteran di Universitas-universitas Eropa maupun negara-negara Islam.

Tahun 721 Hijriah, lahir Ibnu Hayyan yang merupakan ilmuan kimia. Penemuan pentingnya adalah proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan atau fiksasi, dan amalgamasi. Karya terbesarnya adalah kitab al-Kimya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Book of The Composition of Alchemy oleh Robert Chester pada tahun 1444 Masehi. Atas dasar Karyanya tersebut, maka muncullah nama kimia yang digunakan hingga saat ini. Dengan berbagai penemuannya tersebut maka tidak heran jika Richard Russel pernah menyebut Ibnu Hayyan sebagai penemu ilmu kimia dan bapak kimia modern.

Kejayaan islam dengan segenap karya-karya keilmuannya tidak terlepas dari giatnya umat islam pada masa itu dalam menggali ilmu pengetahuan demi kemajuan suatu peradaban di masanya. Usaha yang giat tersebut menjadikan mereka sebagai sosok yang disegani dan dihargai karya-karyanya hingga sekarang. Hal tersebut sangatlah berbeda dibandingkan dengan generasi islam masa kini yang acuh tak acuh terhadap ilmu pengetahuan. Jangankan untuk menggali, untuk membacanya saja enggan. Generasi muda islam lebih disibukkan dengan pengaruh game online dan dunia percintaan yang menyebabkan turunnya daya kritis dan kreatifitas diantara mereka. Akibatnya, umat ini terus mengalami kemunduran yang terlampau jauh dibandingkan umat-umat lainnya. Jika pada masa dahulu, pusat Ilmu pengetahuan berkiblat di dunia islam, di Baghdad dan di Andalusia, maka sekarang kiblat tersebut telah mengalami pergeseran ke dunia barat. Hasilnya, umat islam menjadi umat yang tertinggal, menjadi umat yang dipandang sebelah mata oleh bangsa lain. Sebab itu, hendaklah kita senantiasa menjadi pegiat ilmu sesuai bidang yang kita tekuni masing-masing. Sebab dengan ilmu pengetahuan, Allah akan meninggikan derajat kita, dan dengan ilmu pengetahuan pula akan lahir peradaban yang maju, yang memberikan maslahat bagi umat.

Wednesday, 8 November 2017

Aspek Sosial dan Spiritualitas dalam Rangkaian Tradisi Robo-Robo

sumber : http://www.pontianakpost.co.id/sites/default/files/field/image/robo.jpg

Hari rabu terakhir bulan Safar adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat pesisir Kabupaten Mempawah, khususnya yang tinggal di Muara Kuala Mempawah. Pada hari tersebut terdapat tradisi yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh masyarakat Kabupaten Mempawah, yaitu tradisi Robo-robo.
Tradisi Robo-robo merupakan napak tilas dari perjalanan Raja Opu Daeng Manambon beserta istrinya, Putri Kesumba dari Kerajaan Matan Sukadana (Kabupaten Ketapang) ke Kuala Mempawah untuk menerima titah kerajaan dari Putri Cermin. Istrinya, Putri Kesumba merupakan cucu dari Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan dari Patih Gumantar dari Kerajaan Bengkulu Rajank Mempawah. Kedatangan Opu beserta istrinya ke kuala Mempawah tersebut terjadi pada hari rabu terakhir bulan Safar. Mereka disambut baik oleh masyarakat. Karena senang mendapat sambutan yang cukup baik, Opu Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada masyarakat di pinggir sungai Kuala Mempawah. Selanjutnya, Raja opu daeng Manambon memanjaatkan do’a kepada Allah agar dihindarkan dari mala petaka. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama antara robongan kerajaan dengan masyarakat di pinggir sungai Kuala Mempawah.

Tradisi makan bersama ini terus dilestarikan oleh masyarakat Kabupaten Mempawah dan dinamakan dengan nama tradisi tolak bala. Tradisi tolak bala ini dilakukan dengan melakukan do’a dan makan bersama di tempat-tempat lapang seperti jalan-jalan desa, gang-gang maupun di sekolah-sekolah. Dalam tradisi ini masyarakat membaur. Tua, muda, kaya dan miskin membentuk barisan rapi di setiap jalan-jalan, dan gang-gang desa Kabupaten Mempawah.

Tradisi tolak bala pada rangkaian tradisi robo-robo ini memuat nilai-nilai spiritual dan sosial yang sepatutnya dijadikan pembelajaran bagi pemimpin-pemimpin di negeri ini. Dari sisi spiritualitas, seorang pemimpin harus sadar betul bahwa satu kerajaan, daerah, lebih luasnya lagi dalam lingkup Negara, tidak akan dapat maju, tenteram dan aman tanpa pertolongan dari Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang dilakukan oleh Raja Opu Daeng manambon ketika akan menerima titah kerajaan yaitu dengan memanjatkan do’a agar dijauhkan dari bala dan mara bahaya. Bukan dengan bereuforia, dengan berpesta pora dan segala bentuk kesenangan lainnya. Beliau sadar betul ada kuasa yang lebih tinggi, yang karena kehendaknya kita bisa mendapatkan kebahagian, juga karena kehendaknya kita dapat mendapatkan kesengsaraan dan mala petaka.

Dari aspek sosial, Raja Opu Daeng Manambon yang melakukan makan bersama dengan masyarakat di pinggir sungai Kuala Mempawah mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu membaur dan memasyarakatkan diri dengan rakyatnya. Bukan menampilkan kesenjangan seolah Ia mempunyai kedudukan, merasa gengsi jika makan bersama dengan rakyat jelata.

Hal ini sangat sulit ditemui pada sosok pemimpin di masa ini. Jangankan untuk makan bersama dengan rakyatnya, untuk bertemu saja sudah susah. Mereka peduli dengan rakyatnya, blusukan di desa-desa hanya ketika sedang kampanye saja. Setelah itu, jangankan untuk makan bersama, untuk bertatap muka saja sudah sedemikian sulitnya. Mereka lebih senang makan di restoran-restoran mewah, dengan orang-orang yang hebat-hebat pula lengkap dengan ajudan-ajudannya. Kiri kanan mereka dijaga, yang tidak berkepentingan dilarang mendekat. Rakyat yang dulu memilihnya, kini bak rakyat jelata yang tak ada artinya. Mereka hanya sibuk dengan urusan perut, lupa dengan penderitaan rakyat. Membuat kebijakan sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat.

Berbeda cerita namun dalam satu hikmah, pemimpin yang merakyat dapat pula kita pelajari dari sosok Khalifah Umar bin Khattab. Kala itu tanah arab sedang mengalami masa paceklik. Lahan kekeringan, hewan ternak banyak yang mati, dan rakyat menderita kelaparan. Untuk mengetahui penderitaan rakyatnya, Umar bin Khattab ditemani Aslam melakukan perjalanan malam hari di perkampungan terpencil yang terletak di gurun sepi. Saat memasuki daerah tersebut, Khalifah umar bin Khattab terkejut mendengar isak tangis dari sebuah gubuk tua. Dihampirinya gubuk tersebut dan ditemuinya perempuan tua yang sedang memasak. Tampak pula dihadapan Umar seorang anak perempuan yang sedang menangis. Kemudian Umar bertanya mengapa anak perempuan tersebut menangis. Perempuan tua tersebut menerangkan bahwa anak tersebut menangis karena kelaparan. Khalifah umar terperanjat lantas kemudian ditanyanya apa yang sedang dimasak oleh perempuan tua tersebut. Alangkah terkejutnya umar ketika melihat, apa yang dimasak oleh perempuan tua tersebut adalah batu.

Setelah mendengar keluhan dari perempuan tua tersebut, khalifah umar langsung bergegas kembali ke madinah untuk membawakan sekarung gandum lalu memikulnya sendiri. Melihat hal tersebut, Aslam lalu menawarkan diri untuk membantu Umar. Bukannya senang atas bantuan tersebut, khalifah Umar malah marah dan berkata “Wahai Aslam, apakah engkau mau menjerumuskan aku ke dalam api neraka. Apakah engkau kira setelah menggantikan aku memikul karung ini maka engkau akan memikul beban ku nanti di akhirat kelak? “. Aslam pun tertegun mendengar hal itu. Ia sadar betul bahwa kepemimpinannya kelak akan dipertannggung-jawabkan kepada pencipta. Demikianlah keteladanan Khalifah Umar yang dapat kita contoh bersama terkhusus bagi pemimpin di negeri ini.

Melalui tradisi tolak bala yang dilakukan dengan makan dan do’a bersama oleh Raja Opu Daeng Manambon, beserta kisah Khalifah Umar Bin Khattab diatas, memberikan hikmah bahwa pemimpin sepatutnya memasyarakatkan diri dengan rakyatnya, membaur agar dapat mendengarkan keluh kesah dan penderitaan rakyat. Bukan malah duduk tenteram di kantor, bergelimangan harta dengan fasilitas mewah. Melupakan bahwa dirinya hanyalah sebatas wakil rakyat yang harus kembali dan menemani rakyat. Disamping itu, seorang pemimpin harus mampu menampilkan nilai-nilai spiritualitas, harus senantiasa tunduk dan berserah diri pada kuasa pencipta, bukan dengan bersombong diri, bertinggi hati. Ikhtiar itu perlu, namun jangan lupa berserah diri pada Sang Maha segalanya.

Saturday, 29 October 2016

Sekularisme Terbukti Bukan Solusi

http://www.hidayatullah.com/
Sekularisme merupakan suatu ideologi yang mulanya berkembang di dunia barat dan kemudian menyebar hampir ke seluruh dunia tak terkecuali ke dunia Islam. Ideologi ini mempunyai tujuan yaitu memisahkan antara urusan manusia dengan urusan ketuhanan. Hal ini berarti dalam ideologi sekularisme, agama akan dipisahkan dalam ranah publik atau Negara. Mereka beranggapan bahwa urusan agama merupakan urusan pribadi yang tidak perlu dibawa dalam urusan publik salah satunya dalam urusan politik. Sekularisme didefinisikan sebagai pembebasan manusia dari nilai-nilai agama dan metafisika. Ideologi ini berusaha menghapus nilai-nilai keagamaan yang mencakup penggunaan simbol-simbol keagamaan. Hal semacam ini dulu pernah diterapkan di Negara turki paska runtuhnya kekhalifahan utsmaniah yang memimpin turki lebih dari enam abad lamanya. Terhitung dari tahun 1299 hingga 1923 Masehi.

Sekularisme dan westernisasi yang merajelala di Turki mendatangkan kemudaratan yang besar dari sisi moral dan etika sebagai Negara yang mayoritas beragama islam. Bagaimana tidak, pada kala itu hak muslimah untuk menggunakan jilbab dibatasi. Setiap mahasiswi dilarang menggunakan jilbab di wilayah akademik Turki, di sekolah maupun kampus. Konsumsi bir merajalela. Pembangunan tempat ibadah dibatasi.

Dari sisi ekonomi, julukan "The Sick Man of Europe” begitu melekat bagi Negara yang satu ini. Perekonomian Turki terpuruk ke peringkat 111 dunia. Negara Turki kala itu menjadi pengemis bantuan. Sekularisme yang dianggap akan mampu membawa Turki dapat bergabung dengan uni Eropa dan dengan itu diharapkan dapat meningkatkan perekonomian Turki yang terpuruk, seakan hanya menjadi angan-angan. Turki diejek dengan julukan “si kecil yang ingin bergabung dengan raksasa Eropa”. Begitu memalukan sekali Turki kala itu.

Berbeda dengan Turki saat ini. Kini Turki telah bangkit dari keterpurukan. Sekularisme Turki sedikit demi sedikit disingkirkan dari tatanan kehidupan Turki yang demokratis dan agamis. Aturan pelarangan jilbab dihapus, warga Turki yang dulunya sekuler, yang tak peduli dengan aturan agama, kini telah kembali ke jalan agama yang lurus. Masjidpun kembali ramai dikunjungi di waktu-waktu shalat. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Umum BAZNAS Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc saat mengunjungi Turki. Ia mengungkapkan kekagumannya atas masjid Turki yang penuh sesak dipenuhi oleh jama’ah muda ketika shalat subuh dilaksanakan. Ramainya seperti ramainya jama’ah shalat jum’at di Indonesia.

Turki telah kembali ke fitrahnya sebagai Negara yang religius, Negara inipun bangkit tak hanya dari sisi religiulitasnya saja, tapi dari seluruh aspek sosial dan pengaruhnya di dunia Internasional. Perekonomian Turki meningkat dari peringkat 111 dunia ke peringkat 16 dunia dengan rata-rata peningkatannya sebesar 10 % pertahun, yang artinya kala ini Turki telah masuk menjadi 20 negara besar terkuat di dunia.

Dari dunia penerbangan, Turkish Airline meraih peringkat sebagai maskapai penerbangan terbaik di dunia 3 tahun berturut-turut. Dan untuk pertama kalinya Turki di masa modern ini memproduksi sendiri Tank baja, pesawat terbang dan pesawat tempur tanpa awak, serta satelit militer modern pertama yang multi fungsi.

Dari dunia pendidikan, saat ini Turki dalam 10 tahun kepemimpinan Erdogan telah membangun 125 universitas baru, 189 sekolah, 510 rumah sakit baru, dan 169.000 kelas baru yang modern sehingga rasio siswa per kelas tidak lebih dari 21 orang perkelas. Diceritakan tatkala krisis ekonomi menimpa Eropa dan Amerika, universitas-universitas disana menaikkan uang kuliah tapi Turki justru membebaskan seluruh biaya kuliah dan sekolah bagi rakyatnya dan dijadikan sebagai tanggungan Negara. Disamping itu, Turki saat ini dengan sungguh-sungguh membiayai 300 ribu ilmuan untuk melakukan penelitian ilmiah untuk menuju kebangkitan turki sebagai Negara dengan ekonomi dan politik terkuat di dunia tahun 2023.

Di turki, gaji dan upah meningkat sebesar 300 %, gaji pegawai baru meningkat dari 340 lira Turki menjadi 957 lira. Anggaran pendidikan dan kesehatan mengungguli anggaran pertahanan. Gaji guru setara dengan gaji dokter, dan masih banyak lagi kemajuan Turki masa kini yang tidak dapat penulis paparkan satu persatu.

Kemajuan Turki paska sedikit demi sedikit meninggalkan sekularisme diatas menjadi pembelajaran penting tatkala agama dipisahkan dari ranah publik dan politik maka tidak akan datang pertolongan dari Allah. Agama sepatutnya dijadikan panduan dalam segala tatanan kehidupan. Bermuamalah, bersikap dan bertutur kata, hingga berpolitikpun harus dilandasi dengan agama.

Bayangkan ketika agama dikesampingkan dari tatanan kehidupan bersosial. Orang akan bebas berprilaku semaunya, saling menjatuhkan, menyakitkan, dan saling menzalimi. Sebagai contoh, agama melarang praktek riba’ dan mengurangi timbangan. Tatkala aturan agama yang satu ini tidak dipakai, maka akan banyak kecurangan-kecurangan dalam praktek perdagangan. Aksi tipu-tipu akan menjadi tradisi berdagang. Disamping itu, saling mengumpat, ghibah, memfitnah tidak akan ada larangan. Orang-orang akan bersikap semaunya. Tak akan ada lagi kata toleransi sebagaimana yang diajarkan agama.
Ketika berpolitik juga dipisahkan dengan kaidah keagamaan. Maka pemimpin tak akan lagi memikirkan kemashlahatan umat sebagaimana yang agama perintahkan. Kezaliman, penindasan akan merajalela. Hakim tak akan peduli lagi dengan keadilan yang diajarkan agama. Para politisi akan sibuk memperkaya diri. Amanah akan dikhianati sebab tak ada ketakutan lagi pada balasan akhirat kelak.

Berbeda kasusnya tatkala agama disandingkan dengan kehidupan sosial dan berpolitik. Bersosial dan berpolitik akan selalu dengan tuntunan. Tidak akan ada lagi penindasan dan kezaliman yang merajalela. Hal ini disebabkan ada aturan agama yang senantiasa mengikat dan menjaga.

Dengan ini Allah Ridho, dan rahmatpun akan mengucur dari langit dan buminya. Bukankah telah jelas Firman Allah. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka (dengan itu) Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)”. Wallahu’alam bishshawaf.

Monday, 15 August 2016

Masjid sebagai Tempat Ibadah sekaligus Sumber Pustaka Umat

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan” (Q.S Al-‘Alaq : 1). Kutipan firman diatas merupakan isyarat dari Tuhan yang menggambarkan sebegitu pentingnya perintah membaca sehingga firman ini dijadikan sebagai wahyu pembuka yang disampaikan oleh malaikat Jibril atas perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca itu penting sebab membaca dapat membuka cakrawala fikiran menjadi begitu luas. Segala disiplin ilmu pengetahuan dapat didapatkan hanya dengan membaca. Dunia yang luas akan mudah kita kenali hanya dengan membaca buku-buku tentangnya. Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk mengetahui bagaimana peradaban dan kuliner mereka. Hanya dengan membaca kita tahu. Tak perlu sulit membedah untuk mengetahui bentuk dan fungsi organ dalam tubuh manusia, namun hanya dengan membaca, segala informasi tersebut akan kita dapatkan.

Sejarah kehidupan dan peradaban manusia membuktikan bahwa membaca merupakan modal terpenting untuk membangun sebuah peradaban kearah kemajuan sastra, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Dunia mencatat, Islam pada abad klasik (7-10 M) mengalami kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan. Di masa itu, peran buku sangatlah sentral dalam tatanan kehidupan. Kemajuan ini dibuktikan dengan banyaknya ilmuan muslim yang lahir di masa itu. Ada Ibnu Rusyd dengan karya-karyanya terkenal di kalangan ilmuan eropa. Karyanya seperti Kuliaat Fii al –Tib ( Buku kedokteran ) dan Fasl Al-Maqal Fi Ma bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (Filsafat dalam islam dan menolak segala faham yang bertentangan dengan filsafat). Ada juga Ibnu Sina dengan Qanun Fi Al-Thib yang monumental dikalangan dunia Barat hingga tak heran jika Ia dijuluki sebagai “Bapak Pengobatan Modern” disana. Selain itu, ada juga Al- Biruni yang merupakan Matematikawan, Astronom, Fisikawan, penulis ensiklopedia, Ahli Farmasi, dan guru yang banyak menyumbangkan fikirannya di bidang Matematika, Filsafat, dan obat-obatan. Sumbangansihnya dibidang ilmu matematika diantaranya aritmatika teoritis dan praktis, penjumlahan seri, analisis kombinatorial, kaidah angka tiga, bilangan irasional, teori perbandingan, definisi aljabar, teorema Archimedes, geometri, dan masih banyak lagi sumbangan pemikirannya dibidang matematika ini. Al-Khawarizmi yang dikenal sebagai guru Aljabar di Eropa, Ibnu Ismail Aljazari yang merupakan penemu konsep modern Robotika dan masih banyak lagi sumbangsih-sumbangsih ilmuan muslim pada masa itu. Semua tak lain adalah buah dari membaca. Dengan membaca mereka mampu membuka cakrawala fikiran kearah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan peradaban.

Untuk mendapatkan bahan bacaan dibutuhkan suatu sarana prasarana yang dapat mendukung untuk terciptanya generasi emas umat islam yang gemar membaca ini, yang dalam hal ini perpustakaan. Secara umum perpustakaan dapat kita artikan sebagai pusat pengelolaan koleksi bahan pustaka baik dalam bentuk buku, video, film, Audio, dan bentuk fisik sumber pustaka lainnya yang digunakan sebagai media pembelajaran maupun sebagai media penelitian.

Namun, untuk saat ini pemikiran lama mengenai perpustakaan yang hanya merupakan tempat penyimpanan koleksi buku-buku, dan bentuk fisik sumber pustaka lainnya yang disimpan di dalam gedung sedikit demi sedikit mulai tergeser. Perpustakaan tidak hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan sumber pustaka saja, namun difungsikan juga sebagai sebagai tempat manajemen dari semua sumber pustaka itu.

Masjid yang pada dasarnya difungsikan sebagai sentral utama segala aktifitasan keummatan, sepatutnya tidak hanya digunakan sebagai tempat sujud saja sebagaimana pengertian harfiahnya dari kata sajada yang bermakna tempat sujud. Namun, perlu juga dilirik makna secara istilahnya yang bermakna sebagai tonggak dasar dari pusat keummatan yang meliputi sebagai tempat ibadah, muamalah, dan pendidikan umat.

Suryo AB (AlTasamuh-2003) mengatakan di era kebangkitan umat saat ini, fungsi dan peran masjid sangat diperhitungkan. Setidaknya ada empat fungsi masjid dalam manajemen potensi umat, diantaranya :
1. Pusat pendidikan dan pelatihan.
2. Pusat perekonomian umat.
3. Pusat penjaringan potensi umat dan
4. Pusat kepustakaan.

Masjid sebagai pusat berkumpulnya umat sudah sewajarnya tidak dijadikan sebagai tempat ibadah saja. Masjid hendaknya dijadikan juga sebagai pusat ilmu pengetahuan dimana didalamnya terdapat buku-buku yang dapat diakses oleh umat. Apa gunanya masjid yang megah jika hanya difungsikan sebagai tempat ibadah mahdah. Ramainya hanya pada saat sholat lima waktu saja. Untuk itu, perlu disediakan satu ruangan khusus di masjid sebagai ruangan yang berisi buku-buku yang dapat diakses oleh umat. Tak terbatas pada buku-buku agama saja. Penting juga diisi dengan buku-buku umum yang berguna bagi para pelajar dan mahasiswa serta masyarakat sehingga masjid kembali hidup dengan nuansa pendidikan yang berguna untuk pencerdasan umat, menciptakan generasi emas umat islam di masa mendatang.

Selain itu, untuk keteraturan dan kemudahan penggunaan, sebuah perpustakaan masjid memerlukan sebuah sistem yang bertugas untuk memilah-milah dan mengelompokkan bahan pustaka sekaligus sebagai pemberi tanda bagi setiap bahan pustaka itu sehingga menjadi mudah untuk dicari dan ditemukan. Sistem semacam ini dikenal dengan sebutan Sistem Klasifikasi Bahan Pustaka. Klasifikasi berfungsi untuk membagi bahan-bahan pustaka yang ada menjadi berbagai kelompok sesuai dengan tema, judul, penulis, dan/atau parameter-parameter lainnya yang akan memudahkan penempatan bahan-bahan pustaka tersebut dalam rak-rak buku, serta untuk memudahkan proses penemuan buku-buku tersebut ketika dibutuhkan. Selain itu, didalam perpustakaan masjid perlu dibuat beberapa ruangan seperti ruangan untuk diskusi, pengkajian dan penelitian, serta ruangan membaca (Ribkhi Mustofa Alyan:1999:162). Pengelompokan ruangan ini difungsikan untuk memudahkan bagi pengunjung yang umumnya memiliki tujuan yang berbeda ketika berkunjung ke perpustakaan. Sebab diantara mereka mungkin ada yang ingin berdiskusi, membaca, atau sekedar mencari bahan referensi untuk dipinjam. Dalam hal ini jika ruangan diskusi digabungkan dengan ruangan membaca tentunya akan mengganggu konsentrasi dari pembaca itu sendiri. Maka dari itu diperlukan pengelompokan ruangan tersebut. Sistem tata kelola semacam ini biasa dilakukan pada perpustakaan-perpustakaan masjid tradisional di Kairo misalnya. Didalam masjid tersebut disediakan ruangan khusus yang terdiri dari satu ruang berkubah panjang yang berhubungan dengan ruangan-ruangan penyimpanan buku. Penguasa pada masa itu membangun tangga-tangga dari kayu berhias setinggi orang dengan lebar 3 yard yang mempunyai rak-rak dari atas sampai bawah disepanjang ruangan besar dan ruangan penyimpanan buku. Hal diatas setidaknya perlu diterapkan pada perpustakaan masjid modern untuk menciptakan perpustakaan masjid dengan tata kelola yang baik, dan masjid yang tidak hanya sebagai tempat ibadah mahdah saja tapi juga sebagai tempat memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai sumber pustaka umat.