Monday, 15 August 2016

Amanat Rumusan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945
Undang-undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 merupakan konstitusi sekaligus sebagai dasar hukum tertinggi dalam suatu perundang-undangan. Sebagai Konstitusi yang sekaligus merupakan dasar hukum tertinggi, UUD 1945 mempunyai mempunyai aturan, kebijakan dan amanat yang harus dilaksanakan oleh setiap penyelenggara Negaranya.
Rumusan undang-undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 34 ayat 1 secara tegas menyatakan bahwa “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi memelihara ini mencakup menjaga, merawat, mendidik, dan menyelamatkan. Kata menjaga memiliki definisi mengiringi, mengawasi, dan melindungi dari setiap bahaya, yang artinya setiap petinggi negara termasuk pemerintah dan badan-badan sosial yang lain harus dan wajib untuk selalu berperan serta melindungi, mengiringi, dan menyelamatkan setiap fakir miskin dari setiap mara bahaya yang mengancam nyawa termasuk bahaya dari perlakuan buruk dan diskriminatif, bahkan bahaya kematian disebabkan kelaparan. Berapa banyak anak-anak kecil di tanah air ini yang menderita busung lapar disebabkan oleh himpitan ekonomi yang kian hari kian makin memburuk yang berimbas pada semakin jatuh dan miskinnya mereka, jangankan untuk hidup yang layak, untuk makanpun sudah sedemikan sulit. Gizi buruk menjadi hal biasa sebab apa yang mereka makan merupakan makanan yang tidak layak untuk dimakan, mati dalam kelaparan tak urung kian menyengsarakan fakir miskin di sudut-sudut pedalaman, di NTB, NTT, dan sejumlah daerah di Indonesia lainnya.
Memelihara juga berarti mendidik, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan akses pendidikan murah bahkan gratis terhadap anak-anak kurang mampu di Indonesia. Pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Tanpa pendidikan yang mumpuni, suatu bangsa akan sulit berkembang apalagi untuk bersaing dengan negara lain. Usaha untuk akses pendidikan yang mudah dan murah setidaknya sudah ada hingga saat ini seperti dengan diluncurkannya program Beasiswa kurang mampu (BKM), Bidikmisi, maupun program beasiswa bentukan pemerintah yang lain. Namun tetap saja ada masalah besar yang kian sulit untuk terselesaikan sebagai akibat dari bobroknya birokrasi, terkhusus pada masalah ketidakmerataan yang berujung pada krisis kesenjangan terkhusus bagi mereka yang berada di daerah pedalaman. Pemerintah seakan sulit untuk menjangkau daerah-daerah kecil, mereka terpinggirkan dari akses pendidikan.
Pemerintah yang merupakan pemimpin suatu negara harus mampu menyelamatkan setiap jengkal kesulitan rakyat di tanah air ini dari kemiskinan, kelaparan, hingga kebodohan. Setiap petinggi negara harus sadar betul akan peran mereka sebagi pemimpin yang memikul amanah rakyat. Mereka harus belajar mencintai dan menjadikan setiap jengkal penderitaan rakyat menjadi satu penderitaan yang patut dirasakan olehnya.
Ada kisah menarik yang diceritakan oleh Khalid Muhammad dalam bukunya Ar-rijal Haular Rasul yang patutnya dijadikan pembelajaran tatkala madinah dilanda krisis ekonomi, tampillah satu sosok teladan, khalifah Umar bin Khattab yang patut dicontoh oleh petinggi negeri ini. Diceritakan ketika krisis yang berkepanjangan itu terjadi, seorang sahabat diperintahkan untuk menyembelih hewan ternak untuk dibagikan kepada kaum muslimin yang kelaparan. Ketika tiba waktu makan, para petugas memilihkan satu bagian yang digemari oleh khalifah berupa hati dan punuk unta. Dalam kamus petinggi kita, umar yang posisinya sebagai khalifah sepatutnya layak menerima itu. Namun itu semua berbanding terbalik dengan apa yang akan dikatakan Umar. Umar berkata “Aku akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya aku memakan daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat”. Disamping itu, diceritakan juga tatkala makan, Khalifah Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum ia melihat rakyatnya yang kelaparan menyuapkan makanan di mulut mereka.
Inilah sosok pemimpin yang sepatutnya dijadikan teladan bagi setiap petinggi negeri ini yang ketika rakyatnya dilanda kesusahan, pemimpin juga harus turut merasakan kesusahan itu. Pemimpin harus menjadi tameng bagi rakyatnya dikala dilanda kesulitan. Bukan malah bersembunyi dibelakang, merasa tidak berdosa atas setiap krisis yang dirasakan oleh rakyat sebab kepemimpinannya. Khalifah Umar mengajarkan bahwa pemimpin harus merasakan hal yang paling buruk yang dirasakan oleh rakyatnya, bahkan ia harus merasakan yang lebih buruk dari itu sehingga seorang pemimpin menjadi sadar akan pikulan amanah yang diembannya, seorang pemimpin harus sadar bahwa mereka hakikatnya bukanlah penguasa yang dapat bahagia diatas penderitaan rakyat. Pemimpin adalah wakil rakyat yang menjadi pesuruh rakyat yang menjalankan amanah rakyat. Umar yang menangis ketika diamanahkan menjadi khalifah menjadi pembelajaran bahwa menjadi pemimpin itu bukanlah satu keistimewaan yang patut disyukuri dan diperebutkan. Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus menjadi tameng bagi setiap krisis yang dirasakan oleh rakyat, dari kemiskinan, dari kebodohan, dari kelaparan. Seorang pemimpin yang menjadi petinggi negara harus mampu mensejahterakan bukan malah menyengsarakan.

Agamis Bukan Berarti Ekstrimis Apalagi Teroris
Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku (QS. Azzariyat : 56 ). Kutipan firman diatas merupakan satu bentuk penegasan dari Tuhan kepada makhluknya terkhusus kepada jin dan manusia bahwa tujuan diciptakannya mereka adalah mutlak hanya untuk beribadah kepadanya. Ibadah dalam artian menjalankan segala apa yang diperintahkannya sebagaimana dimaktubkan dalam Alqur’an dan Assunnah (Hadits nabi Muhammad SAW) dan menjauhi segala apa yang dilarangnya. Ada beragam bentuk ibadah yang harus dilaksanakan manusia sebagai makhluk, diantaranya ada yang dianamakan sebagai ibadah mahdah dan ada pula yang dinamakan sebagai ibadah muamalah. Ibadah mahdah merupakan ibadah vertikal, terkhusus hubungan antara manusia dengan rabbnya seperti ibadah shalat, puasa, dan haji serta tidak melakukan kesyirikan terhadap Zatnya. Ibadah muamalah merupakan ibadah horizontal, terkhusus hubungan antara manusia dengan manusia lainnya seperti tolong menolong, berprilaku adil, bersikap jujur, amanah dan segala macam bentuk perbuatan baik lainnya.
Sebagai makhluk yang sadar betul akan tujuan hidupnya, manusia yang taat akan senantiasa melakukan segala apa yang diperintahkan oleh Tuhannya, tak terkhusus pada ibadah yang wajib saja namun juga diselingi dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Mereka senantiasa melaksanakan shalat berjama’ah, mengikuti berbagai macam kajian ilmu agama, menjaga sikap serta tutur katanya. Disamping itu diantara mereka juga ada yang melakukan ibadah-ibadah sunnah lainnya seperti memanjangkan jenggot, menggunakan celana diatas mata kaki, bahkan tidak jarang bagi kaum wanitanya menggunakan cadar. Hal semacam ini merupakan satu bentuk totalitas pengabdian seorang hamba kepada rabbnya.
Namun sangat disayangkan hal semacam ini justru dianggap sebagai hal yang aneh di mata sebagian orang, tak urung juga di kalangan tertentu kaum muslimin. Mereka yang mencoba menjalankan sunnah seperti memanjangkan jenggot, menggunakan gamis dianggap sebagai kaum ekstrimis, kaum yang terlalu agamis, atau mungkin dianggap sebagai kaumnya teroris.
Mereka yang mencoba totalitas dalam pengabdian tak urung dideskriditkan, mereka diasingkan dari pergaulan. Wanita bercadar dijadikan sebagai bahan lucu-lucuan, bahan ejekan hingga tak heran jika ada julukan “ninja” yang disematkan terhadap wanita yang ingin totalitas mengabdi terhadap rabbnya, yang senantiasa menjaga diri dari fitnah setiap orang yang memandang keelokan wajahnya. Di lain hal, berpakaian serba terbuka dijadikan sebagai ajang bangga-banggaan, yang terseksi dianggap sebagai yang terindah dan yang terbaik. Yang buka-bukaan diberi beragam pujian, disorot bah artis di dunia televise. Di lain hal yang tertutup malah dijadikan bahan ejekan, bahan lucu-lucuan, atau mungkin dianggap sebagai orang yang menakutkan, ekstrimis, teroris. Naudzubillahi min dzalik.
Sungguh amat disayangkan pernyataan semacam ini, terkhusus jika diucapkan dari lisan kaum muslimin. Mereka lebih senang dan bangga jika melihat dan menjadi bagian dari kaum hedonis yang berprilaku modernis, berpakaian serba terbuka, mengundang syahwat bagi lawan jenisnya, lupa Tuhan, lupa akan hakikatnya ia diciptakan. Manusia hakikatnya ada dan dilahirkan didunia ini hanyalah untuk beribadah kepada penciptanya, tidak untuk menikmati kesenangan dunia, bermegah-megah, berprilaku dan berpakaian semaunya, melainkan fokus untuk mencari bekal akhirat sana yang kekal abadi selama-lamanya. Untuk mencari bekal akhirat seorang manusia harus dengan sungguh-sungguh melaksanakan segala perintah rabbnya, mengikuti segala apa yang dicontohkan oleh rasulnya, salah satunya yaitu dengan mengikuti sunnahnya. Sebab itu, totalitas pengabdian seorang hamba merupakan suatu bentuk kemutlakan yang harus dilaksanakan oleh setiap manusia, terkhusus umat muslim dunia. bersikaplah sebagaimana sikap orang muslim sesungguhnya, berpakaianlah sebagaimana berpakaian orang muslim sejatinya. Tidak perlu malu atas anggapan-anggapan kaum liberalis. Dan untuk manusia yang belum mampu melaksanakan sunnah, hargai dan sokonglah mereka, bukan malah mendeskriditkan mereka, menganggap mereka ekstrimis, aneh, atau mungkin menjuluki mereka sebagai teroris. Agamis merupakan fitrah manusia. Agamis tak patut disamakan dengan ekstrimis, apalagi teroris.
Sebagai makhluk yang sadar betul akan tujuan hidupnya, manusia yang taat akan senantiasa melakukan segala apa yang diperintahkan oleh Tuhannya, tak terkhusus pada ibadah yang wajib saja namun juga diselingi dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Mereka senantiasa melaksanakan shalat berjama’ah, mengikuti berbagai macam kajian ilmu agama, menjaga sikap serta tutur katanya. Disamping itu diantara mereka juga ada yang melakukan ibadah-ibadah sunnah lainnya seperti memanjangkan jenggot, menggunakan celana diatas mata kaki, bahkan tidak jarang bagi kaum wanitanya menggunakan cadar. Hal semacam ini merupakan satu bentuk totalitas pengabdian seorang hamba kepada rabbnya.
Namun sangat disayangkan hal semacam ini justru dianggap sebagai hal yang aneh di mata sebagian orang, tak urung juga di kalangan tertentu kaum muslimin. Mereka yang mencoba menjalankan sunnah seperti memanjangkan jenggot, menggunakan gamis dianggap sebagai kaum ekstrimis, kaum yang terlalu agamis, atau mungkin dianggap sebagai kaumnya teroris.
Mereka yang mencoba totalitas dalam pengabdian tak urung dideskriditkan, mereka diasingkan dari pergaulan. Wanita bercadar dijadikan sebagai bahan lucu-lucuan, bahan ejekan hingga tak heran jika ada julukan “ninja” yang disematkan terhadap wanita yang ingin totalitas mengabdi terhadap rabbnya, yang senantiasa menjaga diri dari fitnah setiap orang yang memandang keelokan wajahnya. Di lain hal, berpakaian serba terbuka dijadikan sebagai ajang bangga-banggaan, yang terseksi dianggap sebagai yang terindah dan yang terbaik. Yang buka-bukaan diberi beragam pujian, disorot bah artis di dunia televise. Di lain hal yang tertutup malah dijadikan bahan ejekan, bahan lucu-lucuan, atau mungkin dianggap sebagai orang yang menakutkan, ekstrimis, teroris. Naudzubillahi min dzalik.
Sungguh amat disayangkan pernyataan semacam ini, terkhusus jika diucapkan dari lisan kaum muslimin. Mereka lebih senang dan bangga jika melihat dan menjadi bagian dari kaum hedonis yang berprilaku modernis, berpakaian serba terbuka, mengundang syahwat bagi lawan jenisnya, lupa Tuhan, lupa akan hakikatnya ia diciptakan. Manusia hakikatnya ada dan dilahirkan didunia ini hanyalah untuk beribadah kepada penciptanya, tidak untuk menikmati kesenangan dunia, bermegah-megah, berprilaku dan berpakaian semaunya, melainkan fokus untuk mencari bekal akhirat sana yang kekal abadi selama-lamanya. Untuk mencari bekal akhirat seorang manusia harus dengan sungguh-sungguh melaksanakan segala perintah rabbnya, mengikuti segala apa yang dicontohkan oleh rasulnya, salah satunya yaitu dengan mengikuti sunnahnya. Sebab itu, totalitas pengabdian seorang hamba merupakan suatu bentuk kemutlakan yang harus dilaksanakan oleh setiap manusia, terkhusus umat muslim dunia. bersikaplah sebagaimana sikap orang muslim sesungguhnya, berpakaianlah sebagaimana berpakaian orang muslim sejatinya. Tidak perlu malu atas anggapan-anggapan kaum liberalis. Dan untuk manusia yang belum mampu melaksanakan sunnah, hargai dan sokonglah mereka, bukan malah mendeskriditkan mereka, menganggap mereka ekstrimis, aneh, atau mungkin menjuluki mereka sebagai teroris. Agamis merupakan fitrah manusia. Agamis tak patut disamakan dengan ekstrimis, apalagi teroris.

Pukulan Kecil, Bukti Cinta Seorang Guru
Ada
dua bentuk pengendalian sosial yang dapat dilakukan terhadap pelanggaran yaitu
preventif dan represif. Preventif merupakan bentuk pengendalian sosial disaat
sebelum terjadinya pelanggaran. Namun ketika pelanggaran sudah terjadi maka
tindakan represif menjadi langkah terakhir untuk menindak pelanggaran. Represif
merupakan upaya yang bisa dilakukan guna menindak suatu pelanggaran yang sudah terjadi baik untuk
pelanggaran yang sebelumnya sudah dilakukan pencegahan, maupun untuk
pelanggaran yang terjadi sebelum dilakukan pencegahan.
Tindakan
represif salah satunya dapat dilakukan dengan memberikan hukuman bagi pelanggar
yang bertujuan memberikan efek jera bagi pelanggar itu sendiri agar kedepannya
pelanggaran tersebut tidak diulang kembali. Hal ini sependapat dengan hadits
nabi yang berbunyi “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan
tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu
maka (tolaklah) dengan hati (yang tidak membenarkan), dan hal itu adalah
selemah-lemahnya iman (HR. Muslim)”. Kata “siapa yang melihat kemungkaran” ini
merujuk pada suatu masalah yang sudah atau sedang terjadi. Dan tentunya bentuk
pengendalian sosial yang sesuai dengan hadits diatas satu-satunya adalah
tindakan represif. Sesuai dengan hadits diatas, bentuk tindakan represif
tersebut dilakukan dengan berbagai cara diantaranya merubah dengan tangan,
dengan lisan, dan yang terakhir dilakukan dengan penolakan hati yang tidak membenarkan
atas kemungkaran atau pelanggaran tersebut.
Merujuk
dari sisi makna, bentuk tindakan represif pertama pada kalimat “rubahlah dengan
tangan” pada hadits diatas dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya,
pertama yaitu dengan menghalangi pelaku dengan harapan agar pelaku tidak jadi melakukan tindakan
tersebut, kedua dengan menghilangkan alat yang digunakan pelaku untuk melakukan
pelanggaran, dan yang ketiga yaitu dengan memukul pelaku agar menghentikan
tindakan tersebut. Bentuk tindakan represif kedua sesuai hadits diatas yaitu dengan cara
merubahnya dengan lisan. Cara ini dilakukan dengan memberikan nasihat-nasihat
terhadap pelaku agar menghentikan prilaku menyimpangnya. Sedangkan cara yang
ketiga yaitu merubahnya dengan hati. Cara ketiga ini merupakan cara terakhir
atas ketidakmampuan kita menumpas pelanggaran yang tampak didepan mata kita
disebabkan oleh keterbatasan fisik sehingga jika kita melakukan dua cara diatas
ditakutkan akan mengancam keselamatan diri kita. Namun cara ketiga ini
dikatakan sebagai selemah-lemahnya iman seseorang.
Di
zaman sekarang ini, orang-orang umumnya lebih senang menggunakan cara ketiga
untuk menghadapi pelanggaran yang tampak didepan matanya disebabkan oleh takutnya
mereka akan terjerat masalah yang akan merugikan mereka baik secara moril
maupun materiil. Hal ini tak luput juga dilakukan oleh beberapa guru-guru kita
terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh murid-muridnya. Hal ini nyatanya akan
menjadi satu bentuk ketidakpedulian terhadap tumbuh kembang peserta didik di
era yang mengatasnamakan hukum dan HAM seperti saat ini. Jeweran, pukulan kecil
untuk murid yang melakukan pelanggaran yang walau niatnya untuk membentuk sikap
disiplin pada diri diri peserta didik nyatanya saat ini dikatakan sudah menjadi
satu bentuk pelanggaran HAM.
Akan
beda kasusnya jika hal ini terjadi pada tempo dulu. Pendidikan pada masa lalu,
begitu menekankan sikap disiplin pada diri anak. Hal ini didukung pula oleh
orang tua di masa itu. Orang tua di masa lalu tidak akan pernah menuntut guru yang
memukul anaknya jika hakikatnya pukulan tersebut dimaksudkan agar si anak tidak
melakukan kesalahan serupa serta dimaksudkan pula agar si anak segan terhadap
gurunya lalu mau mendengarkan segala apa yang disampaikan dan dinasehatkan oleh
gurunya. Contoh kecil, guru-guru mengaji pada masa lalu tidak pernah tidak
membawa rotan saat mengajar anak didiknya. Ketika anak didiknya tidak serius
membaca Alquran, maka si guru tidak akan segan untuk melayangkan pukulan kecil
pada si anak. Orang tua pada masa itu faham betul akan bentuk pendidikan
semacam ini dan mereka mendukung, sebab mereka sadar betul bahwa pukulan kecil
semacam ini adalah bentuk kepedulian dan cinta seorang guru terhadap muridnya. Hasilnya
dapat kita lihat, abang-abang kita, orang tua kita, kesemuanya jadi pandai
mengaji. Ala bisa karena dipaksa. Disamping itu, anak-anak didikan zaman dulu
kalau dilihat dari sisi sikap mereka, karakter, serta kepribadian mereka akan
akan tampak jauh berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak hasil didikan masa
kini.
Perbedaan
sikap, karakter, serta kepribadiaan tersebut sangat mudah untuk kita jumpai.
Dapat kita lihat, Berkat hukum dan HAM yang ditujukan untuk guru yang bertindak
keras mendidik anak didik ,hasilnya anak-anak
didik di masa ini menjadi cenderung
bermental tempe, manja, senang berlindung di “ketiak” orang tuanya. Selain
itu, anak-anak di masa ini cenderung tidak lagi segan terhadap guru-gurunya.
Berbagai bentuk pembangkangan, sikap kurang ajar sangat umum kita jumpai pada
diri anak sekolah yang dilakukan terhadap guru-gurunya. Nama guru dijadikan
sebagai bahan ejekan, guru garang dibenci bahkan tak urung dimaki-maki, dan
masih banyak lagi bentuk kemunduran moral anak yang terjadi saat ini sebagai
akibat tidak adanya lagi sikap menghormati guru.
Ada
sebuah cerita menarik yang datang dari Jordania yang dimuat di salah satu Koran
di Malaysia. Seorang hakim mengejutkan semua peserta sidang. Ia turun dari
tempat duduknya menghampiri terdakwa lalu mencium tangan terdakwa tersebut.
Terdakwa yang seorang guru SD tersebut heran terhadap tindakan si hakim. Si
hakim berkata, “inilah hukuman yang kuberikan kepadamu, guru”. Diceritakan
bahwa terdakwa tersebut merupakan guru SD yang dilaporkan oleh orang tua yang
merasa anaknya dipukul oleh guru SD tersebut. Siapa sangka sosok yang kini
menjadi hakim tersebut merupakan anak didik dari terdakwa tersebut. Hakim
tersebut sadar betul bahwa pukulan dari guru bukanlah merupakan bentuk
kekerasan. Pukulan tersebut hanya dimaksudkan agar si anak didik mengerti
akhlak dan lebih disiplin nantinya.
Sepenggal
cerita diatas patutnya dijadikan renungan bagi orang tua, serta penegak hukum
di masa ini. Cerita guru yang menjadi terdakwa atas kasus pemukulan terhadap
peserta didik ini bukan hanya terjadi satu dua kasus di negeri ini. Seperti
yang dirilis di Kabar Sumatera, Sudah menjadi fenomena, guru saat
ini terkesan membiarkan siswanya. Mereka hanya menjalankan kewajiban mereka
mengajar, setelahnya mereka pulang. Bukannya mereka tidak mau mendidik muridnya
lebih baik, memperhatikan sikap dan moral peseta didik, mereka sudah terlanjur
takut dilaporkan oleh wali murid seperti yang dialami rekannya. Sudah berapa
banyak guru-guru di Sumatera Selatan yang harus berurusan dengan kepolisian
disebabkan mereka yang memukul anak didiknya yang melakukan kesalahan.
Hal ini
sepatutnya dijadikan cerminan bagi orang tua dan aparat penegak hukum yang
cenderung mempermasalahkan masalah diatas. Apa jadinya seorang anak jika
guru-gurunya sudah enggan peduli menegur anak bapak ibu ketika melakukan
kesalahan. Anak didik sudah tidak lagi menghormati gurunya. Sebab bagaimana
mungkin materi pelajaran akan dapat diterima jika apa yang disampaikan oleh
sang guru hanya didengar sebatas angin lalu, guru-guru dilawan dan cenderung
tidak lagi disegani di zaman yang dimana-mana selalu dikaitkan dengan hukum dan HAM. Sepatutnya kita sadar bahwa pukulan
kecil dari gurumu adalah bukti cintanya mereka terhadapmu.

Keikhlasan Guru Ngaji di Pedesaan
Sebaik-baik manusia, adalah mereka
yang belajar Alquran dan mengajarkannya (Hr. Bukhari). Hadist diatas
menjelaskan bahwa ada dua tipe golongan manusia yang oleh Allah dimasukkan ke
dalam golongan sebaik-baiknya manusia. Golongan pertama yaitu mereka yang
belajar Alqur’an. Sedangkan golongan yang kedua adalah mereka yang
mengajarkannya. Mengajarkan Alquran hukumnya fardhu kifayah yang artinya
merupakan kewajiban yang mengikat dalam suatu komunitas, pedesaan, atau dalam
suatu wilayah tertentu yang apabila didalam suatu komunitas, pedesaan, atau
dalam lingkup kewilayahan tersebut ada satu orang yang telah melaksanakan
kewajiban tersebut yang artinya jika ada satu orang pengajar ngaji saja disana,
maka kewajiban tersebut menjadi gugur. Sebaliknya jika kewajiban tersebut tidak
ada yang menjalankannya maka dosapun ditanggung semua.
Ada fenomena yang menarik untuk dibahas akan sosok tenaga pendidik
yang mengajarkan Alquran atau yang lebih umum dikenal sebagai guru ngaji di
pedesaan. Seakan menjadi kewajiban yang tertanam dalam diri setiap warga pedesaan
untuk mempelajari ilmu agama, khususnya mengaji hingga tak heran hal tersebut
memacu akan banyaknya bibit-bibit yang kelak akan mampu menjadi guru ngaji disana.
Untuk satu RT saja setidaknya ada satu hingga dua guru ngaji. Sebuah fenomena menarik atas peran serta mereka
sebagai tenaga pendidik yang mengajarkan Alquran. Seakan menjadi tradisi yang
diturunkan dari generasi ke generasi, setiap guru ngaji di pedesaan tidak
pernah meminta upah untuk setiap murid yang diajarnya.. Imbalan diberikan hanya
jika keluarga anak didik memiliki rejeki berlebih. Jika tidak, sekedar rajin
datang mengaji saja telah membuat hati si guru senang.
Fenomena Ketulusan hati guru ngaji
pedesaan ini sepatutnya dijadikan
teladan bagi setiap tenaga pendidik di tanah air ini. Tak terbatas untuk guru
ngaji saja tapi untuk semua guru yang ada. Fenomena ini mengajarkan bahwa
mengajar yang merupakan proses transfer ilmu harus dilandasi oleh sikap ikhlas
hati bukan atas dasar atas pengharapan materi sebab kalau bicara soal materi
sejatinya rezeki sudah ada yang mengatur.
Umum kita jumpai tenaga pendidik
kita yang enggan menjadi guru honor disebabkan bayaran yang sedikit dan umum
juga kita jumpai tenaga-tenaga pendidik kita yang enggan mengajar di daerah
pedalaman dengan alasan keterbatasan sarana dan fasilitas. Menjadi PNS serta
mendapatkan tugas diperkotaan yang dengan segala kemudahan sarana prasarana
merupakan hal yang diperebutkan tenaga pendidik kita. Gaji yang lumayan besar
saja tidak cukup jika tugasnya dipelosok pedesaan. Hal ini mengindikasikan akan
sikap materialistik pada setiap diri tenaga pendidik kita. Jangankan menjadi
guru ngaji pedesaan yang diupah seikhlasnya atau bahkan tidak diupah, digaji
besarpun masih tidak disyukuri mereka jika tempat tugasnya di pedalaman
pedesaan.
Uang sejatinya memang menjadi
kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari siklus kehidupan sosial yang
cenderung materialistik, yang segalanya harus dengan uang. Namun uang bukanlah
menjadi acuan setiap tenaga pendidik untuk mengajar. Mengabdi untuk masyarakat
yang merupakan tri darma perguruan tinggi sepatutnya ditanamkan didalam setiap
diri tenaga pendidik kita. Karena mengajar sejatinya merupakan bentuk
pengabdian. Masalah upah, gaji, dan sejenisnya merupakan prioritas belakangan
sebab yakinlah masalah rezeki sudah terporsi sendiri di lauhil mahfuzh sana.
Uang melimpah namun tanpa berkah hakikatnya tidak akan berarti apa-apa. Sebab
jika ada banyak uangpun, jika penyakit Allah datangkan silih berganti, musibah
yang tiada henti, maka uang berlimpahpun tak akan berarti.
Fenomena Ketulusan hati guru ngaji pedesaan merupakan teladan mulia
yang patut ditiru. Sebuah tradisi keikhlasan yang turun secara turun temurun.
Sebuah proses menggapai ridho dan berkah Ilahi. Sebab hidup ini hanya butuh keberkahan dari
setiap materi yang didapatkan. Tak terhitung ganjaran akhirat yang didapatkan
ketika pengabdian dibalut dengan keikhlasan seperti halnya yang kelak akan
didapat oleh guru ngaji pedesaan dengan upah seadanya.

Mendu, Seni Teater Khas Melayu Mempawah yang Terlupakan
Perkembangan zaman tak elak mengakibatkan terkikisnya
nilai-nilai, adat-adat, serta kebudayaan daerah. Musik, teater, tarian,
kesenian daerah kian hari kian kehilangan maruahnya di hati pemuda-pemudi kita.
Kesenian daerah umumnya hanya diminati oleh kalangan tua saja yang sadar akan
pentingnya melestarikan kebudayaan daerah yang merupakan identitas bangsa yang
harus selalu dijaga. Regenerasi pelestarian kesenian daerah ini sangat diperlukan agar kesenian khas yang
telah lama dibangun oleh leluhur dapat senantiasa terjaga kelestariannya.
Indonesia memiliki beragam suku bangsa yang mempunyai
ciri khas yang dituangkan dengan kesenian daerahnya masing-masing, seperti
jawa dengan kesenian wayangnya, cina
dengan kesenian barongsainya, dayak dengan berbagai macam tarian adatnya, dan
beragam bentuk kesenian daerah lainnya.
Hal ini merupakan satu bukti akan kayanya warisan
kebudayaan yang ada di Indonesia. Namun sangat disayangkan kesenian daerah
tersebut kian hari kian semakin ditinggalkan, hampir punah sebab kurang
diminati apalagi dipelajari oleh muda-mudi penerusnya.
Kesenian
daerah yang hampir punah dan dilupakan terkhusus oleh masyarakat melayu
Kalimantan barat yang bertempat tinggal di Dusun Malikian, Kabupaten Mempawah
diantaranya adalah “Mendu”. Mendu pertama kali dikembangkan oleh 3 orang pemuda
Mempawah yaitu Ali Kapot, Amat Anta dan Achmad. Ali Kapot yang berasal dari
dusun Malikian ini begitu gigih dalam meneruskan teater khas Melayu ini ke
anak-anaknya. Mendu merupakan bentuk teater yang mengkombinasikan seni tari,
drama, silat dan berladon atau nyanyian yang berisi pantun-pantun yang
disampaikan oleh satu pemain ke pemain lain secara bergantian. Teater ini
ditampilkan dengan cerita-cerita kerajaan seperti kisah 1001 malam, Zainal
Abidin Raja Kebanyam, Indra bangsawan, dan lain-lain. Teater ditampilkan secara
apik dibaluti dengan nuansa komedi yang akan membuat ketawa bagi siapa saja
yang menyaksikannya.
Dalam
pertunjukannya, teater mendu dibuka dengan tarian khas melayu seperti tarian Beladun
dan tarian khas Melayu lainnya. Tarian Beladun merupakan tarian pembuka Mendu
yang ditampilkan dengan pasangan pria dan wanita yang memakai baju khas melayu.
Untuk yang prianya menggunakan baju teluk belanga, sedangkan wanitanya
menggunakan baju kurung yang semakin menambah nuansa budaya melayu saat
ditampilkan.
Setelah dibuka dengan tarian melayu, Mendu dilanjutkan dengan tampilan teater atau drama kerajaan yang dikemas begitu apik, diselingi dengan nyanyian beladun dan lawakan yang kian membuat mendu ini menjadi semakin menarik untuk dinikmati. Mendu yang dikemas dengan lawakan membuat mendu layak dijadikan sebagai media hiburan rakyat bah Opera Van Java di televisi. Panggung yang digunakanpun tidaklah harus istimewa, cukup mendekorasi halaman kantor, atau halaman sekolahpun cukup untuk pementasan kesenian khas Melayu Mempawah ini.
Teater Mendu umumnya ditampilkan di acara-acara pesta sunatan dan perkawinan. Namun itu hanya dulu, kini bah ombak yang ditelan lautan, kesenian daerah ini hampir sudah tidak pernah ditampilkan kembali. Mendu hanya ditampilkan saat even-even besar di keraton Mempawah. Hal ini mengakibatkan generasi muda saat ini menjadi tidak kenal terhadap kesenian khas daerahnya yang kini bahkan sudah diakui bahkan dalam skala nasioal.
Kementerian
pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia tahun 2014 mengumumkan “Mendu”
sebagai warisan budaya tak benda milik
bersama Kalimantan Barat dan Kepulauan
Riau. Hal ini tentunya menggembirakan sekaligus memperihatinkan sebab warisan
budaya khas Melayu yang begitu indah ini begitu jarang dikenal di tanah
kelahirannya, khususnya masyarakat
Kalimantan barat yang berada di Kabupaten Mempawah. Hal ini bisa
dibuktikan dengan survei lapangan secara langsung di daerah dan kemudian
menanyakan perihal “Mendu” terhadap
generasi mudanya. Umum diantara mereka bahkan tidak mengenal apa “Mendu” itu
yang hakikatnya merupakan seni teater daerahnya.
Hal
diatas merupakan pekerjaan rumah bersama antara pemerintah dan kita selaku muda-mudi
yang lahir di Kabupaten Mempawah untuk kembali mengembangkan kesenian teater
khas melayu ini. Mendu dapat dikembangkan menjadi satu destinasi budaya kita.
Pemerintah harus bekerja keras untuk kembali mengenalkan kesenian teater ini
dengan sesering mungkin mengadakan even-even ataupun pertunjukan-pertunjukan
Mendu, agar kedepannya generasi-generasi mendatang tau dan dapat lebih cinta
terhadap budaya daerahnya. Kita kembalikan maruah Mendu di hati pemuda-pemudi
kita sebab jika Jawa saja punya pagelaran wayang, televisi punya Opera Van Java,
kita punya yang lebih indah, yaitu Mendu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

