Thursday, 29 March 2018

Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam dan Peradaban.

Sumber Foto : http://daddhans75.blogspot.co.id/2014/


Dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi, Nabi Muhammad SAW bersabda “ Kun ‘Aaliman, aw Muta’alliman, aw Mustami’an, Aw Muhibban, wala takun Khamisan, Fatahlik” (H.R Baihaqi). Hadits diatas berisi empat perintah yang diantaranya menjadi ‘Aliman, atau Muta’lliman, atau Mustami’an, atau menjadi Muhibban dalam konteks ilmu pengetahuan. Sebaliknya kita dilarang menjadi yang kelima atau tidak menjadi yang empat tersebut, “fatahlik”, maka kamu akan celaka.

Menjadi ‘Aaliman artinya kita diperintahkan menjadi orang yang berilmu, seperti menjadi guru, dosen, ustad, kiayi atau berbagai bentuk tenaga pendidik lainnya. Jika tidak menjadi ‘Aaliman, maka kita diperintahkan menjadi Muta’alliman. Menjadi Muta’alliman memiliki makna bahwa kita diperintahkan untuk menjadi penuntut ilmu seperti menjadi siswa, mahasiswa, atau santri di sekolah-sekolah dan pondok pesantren. Jika tidak menjadi dua yang diatas, maka jadilah Mustami’an atau pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik dapat dilakukan dengan senang mendengarkan majelis-majelis keilmuan, tausyiah, atau seminar-seminar keilmuan.

Terdapat perbadaan antara menjadi muta’alliman dengan menjadi mustami’an. Kalau muta’alliman, ia akan mencatat segala apa yang didengarnya. Sedangkan mustami'an, Ia hanya akan mendengarkan saja dan menggunakan akalnya untuk menyerap apa yang didengarnya tersebut. Tentu menjadi Muta’alliman adalah yang lebih baik. Selanjutnya, jika tidak bisa menjadi ‘Aaliman, Muta’alliman, atau Mustami’an, setidaknya jadilah Muhibban, yaitu pecinta ilmu. Pecinta ilmu dapat dilakukan dengan menyukai orang yang ‘Aalim, tidak menjadi pembenci majelis-majelis ilmu atau bahkan menjadi donator bagi terselenggaranya majelis-majelis keilmuan tersebut.

Dari keempat tingkatan keilmuan diatas, tentu ‘Aaliman adalah yang terbaik. Dengan menjadi ‘Aaliman, sejatinya kita telah melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada orang lain. Ilmu yang dipelajari tidak hanya menjadi santapan pribadi, tapi juga menjadi manfaat untuk setiap orang yang menerimanya. Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah amal jariah?. Ilmu yang bermanfaat tidak akan putus pahalanya bahkan hingga hayat tak ditanggung badan.

Sebaliknya, kita dilaknat dengan kata “celaka” jika tidak menjadi yang empat tersebut. Sebab, dalam menjalani kehidupan di dunia dan untuk memperoleh bekal di akhirat, ilmu adalah aset berharga yang harus senantiasa dimiliki . Hal ini sejalan dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya “ Siapa yang menghendaki dunia maka dengan ilmu, dan siapa yang menghendaki akhirat maka dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya harus dengan ilmu pula (H.R Tabrani)”. Kita tidak akan bisa menjadi dokter, guru, wartawan, dan menjadi hakim tanpa mempelajari bidang ilmunya. Begitu pula ketika beribadah, amalan hanya akan menjadi sia-sia jika ibadah tersebut hanya ikut-ikutan tanpa dasar ilmu pengetahuan. Bukankah banyak orang yang sholat tetapi tidak faham apa yang dibacanya, sehingga sholatnya tersebut tidak memberikan pengaruh positif bagi kehidupannya. Banyak pula orang yang beribadah, namun ibadahnya tersebut malah menjerumuskan mereka kepada kesesatan. Semua itu disebabkan oleh kefakiran atas ilmu dari ibadah yang mereka jalani. Ilmu dapat menjadi tolak ukur status dan kedudukan seseorang. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki maka semakin tinggi pula status dan kedudukan seseorang di masyarakat. Di dalam Al-Qur’an Surah AL-Mujadalah juga dikatakan bahwa “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S. al-Mujadalah : 11)”.

Peradaban Islam pernah berada dalam masa keemasan, salah satunya pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan masa itu. Hal itu dibuktikan dengan lahirnya tokoh-tokoh ilmuan yang tak hanya terbatas dalam ilmu agama saja, tapi mencakup segala aspek ilmu pengetahuan umum. Di bidang ilmu hadits, lahir Imam Bukhari dengan kitab Shahih Bukharinya, Imam Muslim dengan kitab Shahih Muslim, Abu Dawud dengan kitab Sunan Abu Daud, Ibnu Majah dengan kitab Sunan Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi dengan kitab Sunan Tirmidzinya.

Dibidang ilmu Matematika lahir pula Al-Khawarizmi (194-266 H). yang menyusun buku Aljabar dan menemukan angka nol (0). Ada pula Ibnu Ruysd yang merupakan ahli filsafat yang dikenal dengan sebutan bapak Rasionalisme. Dia terkenal sebagai ahli ilmu hayat, ilmu fisika, ilmu falak, ilmu akhlak dan juga ilmu kedokteran. Karyanya antara lain : Fasul Maqal fima Baina al Hikmati Wasyari’at Minal Ittisal, Bidayatul Mujtahid, Tahafutut Tahafud, dan Fikih. Karangan beliau hingga kini masih banyak dijumpai di perpustakaan Eropa dan Amerika. Tidak kalah pula di bidang ilmu kedokteran, lahir Ibnu Sina dengan karyanya “Al-Qanun Fi Al-tib” yang dijadikan buku pedoman kedokteran di Universitas-universitas Eropa maupun negara-negara Islam.

Tahun 721 Hijriah, lahir Ibnu Hayyan yang merupakan ilmuan kimia. Penemuan pentingnya adalah proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan atau fiksasi, dan amalgamasi. Karya terbesarnya adalah kitab al-Kimya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Book of The Composition of Alchemy oleh Robert Chester pada tahun 1444 Masehi. Atas dasar Karyanya tersebut, maka muncullah nama kimia yang digunakan hingga saat ini. Dengan berbagai penemuannya tersebut maka tidak heran jika Richard Russel pernah menyebut Ibnu Hayyan sebagai penemu ilmu kimia dan bapak kimia modern.

Kejayaan islam dengan segenap karya-karya keilmuannya tidak terlepas dari giatnya umat islam pada masa itu dalam menggali ilmu pengetahuan demi kemajuan suatu peradaban di masanya. Usaha yang giat tersebut menjadikan mereka sebagai sosok yang disegani dan dihargai karya-karyanya hingga sekarang. Hal tersebut sangatlah berbeda dibandingkan dengan generasi islam masa kini yang acuh tak acuh terhadap ilmu pengetahuan. Jangankan untuk menggali, untuk membacanya saja enggan. Generasi muda islam lebih disibukkan dengan pengaruh game online dan dunia percintaan yang menyebabkan turunnya daya kritis dan kreatifitas diantara mereka. Akibatnya, umat ini terus mengalami kemunduran yang terlampau jauh dibandingkan umat-umat lainnya. Jika pada masa dahulu, pusat Ilmu pengetahuan berkiblat di dunia islam, di Baghdad dan di Andalusia, maka sekarang kiblat tersebut telah mengalami pergeseran ke dunia barat. Hasilnya, umat islam menjadi umat yang tertinggal, menjadi umat yang dipandang sebelah mata oleh bangsa lain. Sebab itu, hendaklah kita senantiasa menjadi pegiat ilmu sesuai bidang yang kita tekuni masing-masing. Sebab dengan ilmu pengetahuan, Allah akan meninggikan derajat kita, dan dengan ilmu pengetahuan pula akan lahir peradaban yang maju, yang memberikan maslahat bagi umat.

Tuesday, 13 February 2018

Bersama Untan Membangun Negeri : Untan di Kancah Nasional

Sumber Gambar : www.pontianakpost.co.id


Ketika berbicara tentang Universitas Tanjungpura (Untan), tentu harus dikaitkan pula dengan sejarah, Fakultas-fakultas, jurusan yang ada, fasilitas penunjang, serta segudang prestasinya baik di kancah nasional maupun di kancah Internasional.

Sejarah

Universitas yang terletak di Jalan Ahmad Yani , Pontianak ini sempat mengalami pergantian nama sebelum resmi bernama Universitas Tanjungpura. Pada tanggal 20 Mei 1959, atas prakarsa tokoh-tokoh politik dan pemuka masyarakat Kalimantan Barat, didirikanlah Universitas Swasta berdasarkan Akte Notaris Nomor 13, Kantor Notaris (w.s) Achmad Mourtadha Pontianak tanggal 10 Maret 1959, dengan nama Universitas Daya Nasional dengan 2 fakultas, diantaranya Fakultas Hukum dan Fakultas Tata Niaga. Setelah beberapa tahun kemudian, pada tanggal 16 Mei 1963 Universitas Daya Nasional ini dinegerikan berdasarkan surat keterangan Menteri PTIP Nomor 53 tahun 1963 dengan nama Universitas Negeri Pontianak (UNEP). Perubahan nama dan status negeri ini diikuti pula dengan pembukaan dua fakultas baru yaitu Fakultas Pertanian yang dipelopori oleh Ir. Soedarso Rawidjo, Kepala Dinas Pertanian Prop. Kalbar dan Fakultas Teknik yang dipelopori oleh Ir. Ktut Kontra, Kepala PLN Kalbar, serta Fakultas Tata Niaga menjadi Fakultas Ekonomi.

Dua tahun kemudian, tepat pada tanggal 14 September 1965, Universitas Negeri Pontianak (UNEP) ini diubah kembali menjadi Universitas Dwikora yang didasari Surat Keputusan Presiden RI Nomor 278 Tahun 1965, yang sekaligus pada saat itu dibentuklah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) yang dipelopori oleh Drs. Soepardal, Kepala Bagian Sosial Politik pada Kantor Gubernur KDH Provinsi Kalbar. Hingga kemudian pada tanggal 15 Agustus 1967, Universitas Dwikora kembali dilakukan perubahan dengan nama Universitas Tanjungpura hingga sekarang. Perubahan nama ini berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 171 Tahun 1967 dengan Letkol CKH Mu-hammad Isja sebagai Rektornya.

Fakultas dan Jurusan

Universitas Tanjungpura memiliki tiga jurusan untuk program diploma yang diantaranya : Administrasi Perkantoran, Kesetariatan, dan Budidaya Tanaman Perkebunan. Disamping itu, universitas ini juga memiliki Sembilan fakultas untuk jenjang program sarjana (S1) dan Sembilan jurusan untuk jenjang program magister (S2).Sembilan Fakultas dan jurusan untuk jenjang S1 tersebut diantaranya :

- Fakultas Hukum dengan jurusan Ilmu Hukum

- Fakultas Ekonomi, didalamnya terdapat 4 jurusan yang diantaranya : Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Manajemen, Akuntansi, Ekonomi Islam.

- Fakultas Pertanian, didalamnya terdapat 8 jurusan yang diantaranya : Manajemen Agribisnis, Agroteknologi, Sosial Ekonomi Pertanian, Budidaya Tanaman Perkebunan, Ilmu Teknologi Pangan, Peternakan, Ilmu Tanah, dan Manejemen Sumber Daya Perairan.

- Fakultas Teknik, didalamnya terdapat 11 jurusan yang diantaranya : Teknik Elektro S1, Teknik Informatika S1, Teknik Industri S1, Teknik Sipil S1, Arsitektur S1, Teknik Lingkungan S1, Teknik Mesin S1, Teknik Kimia S1, Teknik Kelautan S1, Teknik Pertambangan S1, dan Perencanaan Wilayah dan Kota S1.

- Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, didalamnya terdapat 10 jurusan yang diantaranya : Kearsipan, Sosiatri, Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Pemerintahan, Ilmu Politik, Ilmu Sosiologi, Administrasi Perkantoran, Antropologi Sosial, Hubungan internasional, dan Ilmu Komunikasi.

- Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan didalamnya terdapat jurusan dengan program studinya masing-masing yang diantaranya : Pendidikan Ilmu-ilmu sosial ( Pendidikan Sosiologi, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Geografi, Pendidikan Ekonomi ), Pendidikan Matematika dan IPA ( Pendidikan Matematika, Pendidikan Kimia, Pendidikan Fisika, Pendidikan Biologi) Pendidikan Bahasa dan Seni ( Ilmu Perpustakaan, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Seni Tari dan Musik, Pendidikan Bahasa Mandarin, Pendidikan Bahasa Indonesia Sastra Indonesia dan Daerah), Pendidikan Dasar deng program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Ilmu Keolahragaan (Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Ilmu Kepelatihan Olahraga), dan Ilmu Pendidikan ( Pendidikan Guru PAUD, dan Bimbingan dan Konseling).

- Fakultas Kehutanan, dengan jurusan Kehutanan

- Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, didalamnya terdapat jurusan yang diantaranya : Matematika, Statistik, Fisika, Geofisika, Ilmu Kelautan, Kimia, Biologi, Sistem Komputer, dan Sistem Informasi

- Serta Fakultas Kedokteran yang didalamnya terdapat jurusan yang diantaranya : Kedokteran, Farmasi, dan Keperawatan.

Sedangkan untuk Program Magister (s2), Universitas Tanjungpura telah memiliki jurusan-jurusan yang diantaranya : Teknologi Pembelajaran, Pendidikan Sosiologi, Pendidikan Guru SD, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Administrasi Pendidikan, Teknik Sipil, dan Teknik Elektro

Fasilitas Penunjang Bahasa Asing

Di bidang sarana dan prasarana serta fasilitas penunjang bahasa asing , Universitas Tanjungpura menyediakan beberapa language corners yang diantaranya : Pearson Test of English (PTE) Academic, British Culture and Learning Centre (BCLC), Japan Corner, Kedai Perancis, dan American Corner (Amcor) Untan, yang tentunya language corner ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa Untan yang ingin memperlajari bahasa asing. Disamping itu pula, salah satu Language Corner yang ada di Untan ini juga merupakan Language Corner terbaik di Indonesia. Sebut saja American Corner (Amcor) Untan misalnya, seperti yang dikutip dari media online thetanjungpuratimes.com, Direktur American Corner Universitas Tanjungpura (Untan) Stella Pransiska mengungkapkan sejak berdirinya Amcor Untan pada tahun 2012 hingga tahun 2016, Amcor Untan masih dinobatkan sebagai American Corner terbaik se-Indonesia.

pada tanggal 20 Mei 2017, sebuah lembaga internasional bonafit bernama Pearson Test of English Academic telah berdiri di Universitas Tanjungpura ini. Gedung PTE-A ini terletak di samping gedung Puskom Untan. Lembaga ini merupakan kerjasama Untan dengan Universitas Leicester, Inggris Raya. PTE-A Untan merupakan sebuah pusat tes bahasa yang menyelenggarakan tes kemampuan berbahasa Inggris dengan standar internasional yang diakui berbagai negara di dunia. Pusat tes ini melengkapi layanan pelaksanaan tes kemampuan berbahasa Inggris dengan standar yang diakui oleh dunia secara global, yang hal ini tak dimiliki oleh dua tes sebelumnya yaitu IELTS dan TOEFL-ITP. Hal ini membanggakan untuk Untan sendiri, yang mana lembaga ini yang pertama ada di Indonesia.

Fasilitas yang dengan kualitas terbaik diatas sepatutnya dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa lulusan Untan dapat memiliki kualitas yang jauh lebih baik disbanding mahasiswa lulusan kampus lainnya terutama dari sisi penguasaan bahasa. Pada akhirnya mahasiswa diharapkan dapat turut Bersama UNTAN Membangun Negeri, dapat menjadi generasi yang mampu membangun dan membanggakan Indonesia.

Untan dengan Segudang Prestasi

Dikutip dari laman berita online fisip.untan.ac.id, diungkapkan bahwa berdasarkan perengkingan versi Ranking Webometrics periode Januari 2017, Universitas Tanjungpura memperoleh peringkat 43 dari 486 kampus di Indonesia, yang artinya Universitas Tanjungpura masih masuk dalam jajaran Top 50 Universitas terbaik di Indonesia. Di Kalimantan sendiri, Untan menduduki peringkat sebagai Universitas terbaik.

Prestasi mahasiswa Untan juga tidak kalah dengan prestasi-prestasi mahasiswa dari kampus ternama di Indonesia. Sebut saja Robi Nusantara, Ia berhasil membawa Untan menorehkan Prestasi di Tingkat Nasional dengan mengikuti lomba-lomba seperti Lomba cipta aplikasi (Hackathon). Pada lomba ini Ia membuat aplikasi untuk menunjang roda perekonomian mikro khususnya di sekitar sungai Kapuas.disamping itu Ia juga memenangi juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah di Surabaya. Ada juga Iin Safitri, Mahasiswi Kehutanan UNTAN, Ia meraih Juara 3 Nasional Lomba Karya Tulis Ilmiah. Tidak kalah dengan dua mahasiswa diatas, ada pula Duet Angga Kurnia Putra dan Agustino Halim berhasil menyabet juara tiga bidang Web Programming di National FIT Competition di di Fakultas Teknik Informatika Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Dan pada tahun 2016, berdasarkan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Kemenristekdikti Nomor 117/B3.1/KM/2016 pada tanggal 19 Februari 2016, Universitas Tanjungpura berhasil meloloskan 37 Tim dalam pentas Nasional di Program Kreativitas Mahasiswa. Angka ini cukup membanggakan sebab ini merupakan tim terbanyak sekalimantan yang dapat dikirim oleh Untan.

Tidak mau kalah dengan program studi lain yang ada di Untan, Program Studi Sistem Komputer juga mampu mengirim perwakilannya melalui Indonesia Under Team untuk mengikuti perlombaan-perlombaan di kancah nasional. Indonesia Under Team sendiri pernah meraih Juara 3 Cyber Defence Competitioan Kementrian Pertahanan 2014 Ketegori Kelompok Pelajar Tingkat Nasional, meraih Juara 3 Bidang CTF / Hacking Indonesia Cyber Army 2014 Tingkat Nasional, dan Juara 2 Cyber Defense Competition Kementerian Pertahanan 2015 Kategori Kelompok Pelajar Tingkat Nasional. Disamping itu, tim yang dianggotai oleh Ikhsan Maulana dan Feri Harjulianto juga mampu menorehkan prestasi mewakili Untan dengan mendapatkan Juara 3 Bidang Keamanan Jaringan dan Sistem Informasi Gemastik 8 Tingkat Nasional, dan masih banyak lagi segudang prestasi mahasiswa dan mahasiswi Untan yang tidak dapat penulis paparkan satu persatu melalui artikel yang singkat ini.

Untan yang dengan segudang prestasi dan fasilitas penunjang diatas, sepatutnya menjadi hal yang membanggakan bagi seluruh civitas akademika Universitas Tanjungpura. Potensi ini harus terus dimanfaatkan agar Untan dapat menjadi kampus yang mampu memberikan kontribusi besar untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Referensi :

http://www.untan.ac.id/sejarah-universitas-tanjungpura/
http://www.daftarjurusan.id/2017/06/daftar-fakultas-programstudi-untan-universitas-tanjungpura-pontianak.html
http://uptbahasa.untan.ac.id/fasilitas-terbaru-di-upt-bahasa-untan-bernama-academic-resource-center/
http://thetanjungpuratimes.com/2016/04/23/amcor-untan-sandang-predikat-american-corner-terbaik-di-indonesia/
http://fisip.untan.ac.id/index.php/2017/02/04/untan-peringkat-43-dari-486-kampus-di-indonesia/
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/10/04/satu-satunya-di-indonesia-munculnya-di-universitas-tanjungpura
https://video.quipper.com/id/blog/quipper-campus/pulau-kalimantan/universitas-tanjungpura/mahasiswa-universitas-tanjungpura-yang-ukir-prestasi-di-tingkat-nasional/
http://pertanian.untan.ac.id/post/prestasi/untan-berhasil-loloskan-37-proposal-pkm-dikti-tahun-2016
http://siskom.untan.ac.id/prestasi


Monday, 8 January 2018

Menghargai Perbedaan Pendapat

sumber : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqz1czvs8kgdzByoN9kvJK5lq3ZgKevUIeHC2czefXcY-tQ3AeWqhdZA9FQhaIkSRCm9Df2NP_cus7uYYXrIxciQyBQ4QLOWw2xtzo0BVvr5EPFwlD9JZ8hgV9p9JLR9FokrAXJ9HjHcc/s1600/1463165_571437602910195_1941483549_n.jpg

Baru-baru ini umat islam sedang dibenturkan oleh fenomena saling membid’ahkan, dan saling menyalahkan amalan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berbeda kelompok dengannya. Hal ini tak pelak menimbulkan gesekan-gesekan yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan di kalangan umat islam itu sendiri. Akibatnya, muncullah aksi-aksi pembubaran pengajian oleh kelompok yang tidak sefaham, saling hujat di media sosial, dan berbagai bentuk permusuhan lainnya.

Hal semacam ini sepatutnya tidak terjadi di kalangan umat islam yang masih dalam naungan ahlu sunnah wal jama’ah, yang jika terdapat perbedaan sekalipun masih dalam ranah ikhtilaf dan khilafiah. Sebagian ulama ada yang menyamakan definisi ikhtilaf dan khilafiah ini, namun sebagain pula ada yang membedakan. Ikhtilaf sendiri diartikan sebagai perbedaan dengan dalil, sedangkan khilafiah diartikan sebagai perbedaan tanpa dalil. Pada intinya, baik ikhtilaf ataupun khilafiah memiliki makna bahwa masih terdapat perbedaan pendapat ulama dalam memahami masalah tertentu. Sehingga kurang pas jika masalah ikhtilaf dan khilafiah ini dijadikan dalil untuk saling menyalahkan dan membid’ahkan golongan lain yang tidak sefaham.

Masalah ikhtilaf dan khilafiah ini tidak hanya terjadi di masa sekarang, namun turut pula terjadi di masa-masa sahabat, serta ulama-ulama terdahulu. Singkatnya kita mengenal empat Imam Mazhab yang berbeda seperti Mazhab Hanafi, Maliki, Hambali, serta Mazhab Syafi’i. Masing-masing mereka sering terjadi perbedaan pendapat, namun perbedaan tersebut tidak lantas menjadi hujjah untuk saling menyalahkan dan membid’ahkan pendapat imam yang lain. Imam-imam diatas telah memberikan contoh yang baik dalam memahami perbedaan pendapat, mereka saling menghargai satu sama lain sebagaimana dijelaskan pada kisah-kisah pertemuan imam antar mazhab berikut dan bagaimana pendapat mereka terhadap imam yang lain.

Dikutip dari buku 37 masalah populer karangan Ustad Abdul Shomad, Lc., M.A bahwa Imam al-Laits bin Sa’ad berkata, “Saya bertemu dengan Imam Malik, saya katakan kepadanya, ‘Saya lihat engkau mengusap keringat dari alis matamu?’. Imam Malik menjawab, “Saya merasa tidak punya apa-apa ketika bersama Abu Hanifah, sesungguhnya ia benar-benar ahli Fiqh wahai orang Mesir (Imam al-Laits)”. Kemudian saya menemui Imam Hanafi, saya katakan kepadanya, “Bagus sekali ucapan Imam Malik terhadap dirimu”. Imam Hanafi menjawab, “Demi Allah, saya belum pernah melihat orang yang lebih cepat memberikan jawaban yang benar dan zuhud yang sempurna melebihi Imam Malik” (Al-Qadhi ‘Iyadh, Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, Juz.I, hal.36).

Begitu pula komentar Imam Hanbali terhadap Imam Syafi’I. Abdullah putra Imam Hanbali berkata, “Saya katakan kepada Ayah saya, ‘Wahai Ayahanda, orang seperti apa Syafi’i itu, saya selalu mendengar engkau berdoa untuknya’. Imam Hanbali menjawab, ‘Wahai Anakku, Imam Syafi’i seperti matahari bagi dunia. Seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah, adakah pengganti bagi kedua ini?!” (Al-Hafizh al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal,juz.XXIV (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 1400), hal.372 ).

Imam-imam mazhab terdahulu begitu memegang adab terhadap yang berbeda pandangan dengannya. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak membuat mereka menjadi ego atas pendapat mereka sendiri, apalagi hingga menciptakan permusuhan antar mereka. Seperti adab Imam Syafi’I terhadap Imam Hanafi ketika melaksanakan shalat subuh ditempatnya Imam Hanafi. “ Suatu ketika Imam Syafi’i melaksanakan shalat Shubuh, lokasinya dekat dari makam Imam Hanafi. Imam Syafi’i tidak membaca doa Qunut karena beradab kepada Imam Hanafi “.

Begitu pula adab Imam Malik yang ketika bermusyawarah dengan Khalifah Harun Ar-Rasyid terkait peletakan kitab Al-Muwaththa karangan Imam Malik. ” Imam Malik Berkata : Khalifah Harun ar-Rasyid bermusyawarah dengan saya, beliau ingin menggantungkan kitab Al-Muwaththa’ (karya Imam Malik) di Ka’bah, beliau ingin menetapkan agar seluruh masyarakat memakai isi kitab al-Muwaththa’. Saya katakan, “Jangan lakukan! Sesungguhnya para shahabat Rasulullah Saw telah berbeda pendapat dalam masalah furu’, mereka juga telah menyebar ke seluruh negeri, semuanya benar dalam ijtihadnya”. Khalifah Harun ar-Rasyid berkata, “Allah memberikan taufiq-Nya kepadamu wahai Abu Abdillah (Imam Malik)” (Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hulyat al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, Juz.VI (Beirut: Dar alKitab al-‘Araby), hal.332. ).

Sikap Imam Mazhab diatas sepatutnya dapat dicontoh oleh generasi sekarang. Dalam menyikapi masalah Ikhtilaf dan Khilafiah, hendaknya dapat saling menghargai perbedaan tersebut, bukannya dengan saling menghujat. Hal ini agar tercipta kerukunan antar sesama umat Islam, umat tidak saling terpecah belah. Pada hakikatnya, umat islam akan kuat jika bersatu dan akan menjadi lemah jika bercerai-berai. Firman Allah dalam Alqur’an : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)”.

Thursday, 23 November 2017

Sekolah Laskar Pelangi di Dusun Sampang


Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD) rumusan pasal 33 ayat 3 secara gamblang menyatakan bahwa Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kata makmur sendiri memiliki makna banyak penduduk yang sejahtera, serba berkecukupan, dan tidak berkekurangan
( Sumber : Kamus Besar Bahasa Indonesia ). Artinya, dengan penguasaan kekayaan alam yang berlimpah ruah ini, Negara harus mampu memanfaatkan kekayaan alam tersebut guna menyejahterakan rakyatnya, sehingga masyarakat dapat cukup sandang, pangan, papan, serta yang tak kalah penting yaitu kebutuhan pendidikan.

Seringkali membuat geram jika melihat realita yang terjadi atas pengamalan rumusan UUD pasal 33 ayat 3 ini. Bagaimana tidak, kekayaan alam yang berlimpah ruah bukannya dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat, namun diperjualbelikan untuk kepentingan kapitalis dan elit politis. Sebagai Negara tropis, Indonesia memiliki hutan paru-paru dunia yang kaya akan sumber daya alamnya. Belum lagi kekayaan tambangnya, minyak bumi, emas, intan, dan batu permata, sudah bukan menjadi rahasia lagi, bahkan duniapun juga telah mengakui. Belum lagi hasil laut Indonesia yang menyumbang 10 % kebutuhan perikanan global (sumber : katadata.co.id/infografik/2017/02/13/potensi-besar-laut-indonesia ). Ini menimbulkan pertanyaan besar jika masih saja terjadi ketimpangan sosial di negeri yang kaya raya ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Maret 2017, penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan di lndonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk). Meskipun persentase di tahun 2017 ini mengalami penurunan, namun jumlah angkanya terus bertambah. Hal ini bermakna, masih terdapat 27,77 juta warga Negara Indonesia yang belum merasakan kesejahteraan, kemakmuran hidup seperti yang diamanahkan konstitusi.

Kemakmuran rakyat erat pula kaitannya dengan tingkat pendidikan, konstitusi kita sebetulnya telah memprioritaskan kebutuhan dasar yang satu ini. Hal tersebut tertuang dalam rumusan pasal 31 ayat 1-5 UUD 1945 lengkap dengan anggarannya pula, tidak tanggung-tanggung 20 % dari APBN dan APBD. Tapi apakah amanat konstitusi ini telah dijalankan sepenuhnya oleh pemerintah?. Jika ditelisik kembali, nyatanya masih banyak anak-anak Indonesia yang belum tersentuh pendidikan, masih banyak sekolah-sekolah yang setengah rubuh, yang tidak layak guna. Penulis menyebut kondisi ini mirip semacam sekolah laskar pelangi dalam novel garapan Andrea Hirata.

Kisah nyata yang dialami oleh penulis sendiri ketika melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) FMIPA Universitas Tanjungpura beberapa bulan yang lalu. Pada saat itu, kebetulan kami ditugaskan di Desa Teluk Empening, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya. Desa ini memiliki 3 dusun yang diantaranya Dusun Sampang, Dusun Kelola Jaya, dan Dusun Tanjung Harapan. Sebagai akademisi, kami menyempatkan untuk mengajar di salah satu Madrasah Ibtidaiyah, di Dusun Sampang.

Siang itu, setiba di Madrasah Ibtidaiyah, kami disambut oleh riang tawa anak-anak kecil yang berlarian bermain di halaman madrasah. Diantara mereka ada yang berseragam sekolah lengkap, namun ada pula yang tidak berseragam sekolah, tidak beralas kaki. Saat kedatangan kami, belum ada satupun guru yang datang, padahal waktu telah menunjukkan bahwa proses kegiatan belajar mengajar seharusnya telah dimulai. Setelah menunggu beberapa saat, seorang bapak-bapakpun menghampiri kami, ia adalah salah seorang dari tiga guru yang mengajar di madrasah ibtidaiyah ini.
Dari penuturan beliau, madrasah ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan pendidikan anak-anak di Dusun Sampang. Yang mengajar disini pun adalah guru-guru yang secara sukarela menyempatkan sedikit waktu disamping kesibukan kerjanya yang lain. Beberapa diantaranya ada yang bekerja di kantor urusan agama (Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah), dan ada juga yang bekerja sebagai guru tetap di salah satu sekolah dasar lain yang ada di Desa Teluk Empening ini.

Secara fisik. madrasah ini berdindingkan papan, dengan 3 ruangan kelas untuk belajar mengajar, sedangkan ruangan lainnya digunakan sebagai ruang guru. Seperti kebanyakan sekolah dasar lainnya, madrasah ini juga mempunya enam jenjang tingkatan kelas. Artinya, untuk pememenuhan kebutuhan belajar mengajar di ruangan yang serba terbatas, di madrasah ini, satu ruangan dipakai untuk dua tingkatan kelas. Hal yang membuat penulis berfikir, bagaimana proses belajar mengajarnya? Efektifkah kegiatan belajar mengajar dengan kondisi semacam itu?.

Diungkapkan oleh seorang guru lainnya, madrasah ini dibangun atas dasar prihatin terhadap kondisi beberapa anak-anak di Dusun Sampang yang tidak mendapatkan akses pendidikan, disebabkan mereka lebih memilih membantu orang tua berkerja pada waktu dini hari hingga pagi harinya. Seusia mereka telah terbiasa bekerja membantu orang tua di kebun karet. Atas dasar itulah proses belajar mengajar di madrasah ini dilakukan pada siang hari. “Asal mau belajar sajalah mereka ini, sebab itu tidak masalah jika tidak berseragam, beralas kaki” tutur guru tersebut.

Mengajar 2 tingkatan kelas dalam satu waktu bukanlah sebuah perkara yang mudah. Ketidak efektifan belajar mengajar sudah pasti menjadi jawaban atas kondisi ini. Apa lagi ketika hanya ada seorang guru yang datang pada hari tersebut, tentu akan lebih menyulitkan. Seorang guru mengajar enam tingkatan kelas sekaligus dalam satu waktu. Hasilnya tentu jauh dari kata berhasil, untuk beberapa siswa kelas lima SD, di madrasah ini masih ada yang belum lancar hitung menghitung. Ini wajar dengan pola pembelajaran demikian.

Hal tersebut menyulitkan mereka ketika melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, sekolah menengah pertama (SMP). Beberapa anak lulusan madrasah ini, mengalami kesulitan bersaing dengan teman-temannya yang lain ketika memasuki jenjang SMP. Hal ini diungkapkan oleh salah seorang guru madrasah itu sendiri. Ditambah lagi beberapa diantara mereka ada yang masih sulit menggunakan Bahasa Indonesia. Mereka masih begitu kental menggunakan bahasa ibu mereka, bahasa Madura. Sebab itu, penekanan penggunaan Bahasa Indonesia di kelas untuk siswa di madrasah ini sangat amat diprioritaskan disamping mempelajari mata pelajaran yang lain.

Setelah sekian lama berbincang-bincang, kami pun memohon izin untuk melakukan proses belajar mengajar. Tim yang berjumlah enam orang kami bagi di tiga ruangan kelas, masing-masing ruangan kelas diisi dengan dua orang pengajar. Metode pengajarannya pun dilakukan sama seperti yang dipraktekkan oleh guru di madrasah ini. Waktu belajar mengajar dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama kami harus memilih salah satu dari dua tingkatan kelas yang akan diajar terlebih dahulu. Sebab, meskipun kami berdua di ruangan ini, sangat tidak mungkin jika kami beradu suara dan berebut papan tulis di ruangan sempit tersebut.

Proses belajar mengajarnya dilakukan dengan sedikit menerangkan materi pelajaran untuk kemudian memberikan latihan soal. Di sela –sela mereka mengerjakan latihan soal tersebutlah, kami gunakan untuk mengajar tingkatan kelas yang lain hingga menjelang waktu sore, tanda kelas bubar. Dari rentang pukul satu hingga pukul lima sore, kami hanya dapat melakukan transfer ilmu dalam waktu dua jam untuk setiap kelasnya. Terasa sangat singkat, dan hanya inilah yang bisa kami dan guru-guru madrasah ini berikan di tengah keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar.

Demikianlah gambaran singkat yang kami rasakan ketika melakukan pengabdian kepada masyarakat di desa terpencil, yang luput dari perhatian pemerintah. Pendidikan dasar sembilan tahun yang sepatutnya menjadi hak warga Negara yang dijamin konstitusi, ternyata masih belum disentuh dengan baik dan merata oleh mereka yang tinggal di sudut-sudut perkampungan, di desa-desa terpencil. Kisah diatas merupakan fenomena puncak gunung es. Sedikit yang tampak, namun sebenarnya ada lebih banyak kisah-kisah serupa yang luput dari perhatian, atau mungkin saja ada yang lebih parah dari kisah diatas di negeri yang katanya kaya gemah ripah loh jinawi ini. Semoga tulisan ini dapat menggugah hati pemimpin-pemimpin, terkhusus bagi diri kita sendiri sebagai akademisi, agar dapat lebih memperhatikan dan peduli terhadap kebutuhan pendidikan saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman pedesaan. Sebab pendidikan adalah bekal yang menentukan akan dibawa kemana bangsa ini ke depan.

Thursday, 9 November 2017

Maksiat Menutup Pintu Ilmu



Sebagai seorang pelajar, kewajiban kita tentunya adalah menuntut ilmu. Dalam agama Islam, menuntut ilmu merupakan satu hal yang sangat penting. Bahkan nabi memerintahkan untuk menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat, artinya kita dituntut untuk senantiasa belajar semenjak kita dilahirkan hingga datang kematian. Dengan belajar, wawasan dan pola pikir kita akan lebih terbuka dan terarah. Dan dengan belajar pula Allah akan meninggikan derajat hambanya. “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Maha teliti apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujadalah/58: 11).

Terkadang, semangat belajar ini tidak sebanding dengan apa yang kita harapkan. Seringkali kita membaca dan menghapal, namun bacaan dan hapalan tersebut mudah hilang begitu saja. Atau mungkin ketika kita diterangkan pelajaran oleh guru kita di kelas namun ketika ditanya kembali materi yang telah diajarkan tersebut pada keesokan harinya, hanya beberapa saja yang kita ingat atau bahkan tidak kita ingat sama sekali. Dan ada yang lebih parah lagi, ketika baru saja diterangkan materi pelajaran, tak lama beberapa saat setelah diterangkan materi tersebut ,lalu ditanya kembali pun masih banyak diantara kita yang lupa.

Lebih sulit lagi teruntuk teman-teman yang sedang dalam proses ingin menghapal Al-quran. Seringkali untuk menghapal beberapa ayat saja sudah sulit, pun ketika sudah dapat dihapal, hapalan tersebut tidak dapat bertahan lama. Begitu terasa sekali kesulitan menghapalnya. Coba kita bandingkan dengan adik-adik kita di Palestina, di usia SD saja ada yang sudah hafizh Qura’an 30 Juz.

Lebih hebatnya lagi jika kita membaca biografinya Imam Syafi’i. Imam Syafi’I adalah adalah satu diantara 4 imam mazhab terkemuka. Disamping terkenal dengan kealiman, keteladanan dan kezuhudannya, Ia juga terkenal sebagai ahli fiqih dan seorang yang sangat bagus hapalannya. Hapal Alquran dalam usia tujuh tahun, tuntas membaca kitab Al-Muwatha’ dihadapan penulisnya yang sekaligus gurunya dalam usia sepuluh tahun, serta diberi otoritas menyampaikan fatwa di usia lima belas tahun merupakan keistimewaan yang tidak semua orang dapat memilikinya. Lantas apa rahasia kuatnya hapalan Imam Syafi’I tersebut? Selanjutnya akan kita bahas dan renungkan pada kisah berikut.
Suatu ketika Imam Syafi’i pernah bertanya kepada gurunya ketika menghadapi kesulitan menghapal, sebelumnya Ia tidak pernah sama sekali mengalami kesulitan. Berbeda dengan kita yang sering mengalami kesulitan hingga menjadi hal yang biasa ketika lupa. Kisah tersebut adalah ketika Ia bertanya kepada gurunya, Imam Waki’. “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Kisah diatas mengindikasikan bahwa maksiat adalah penghalang mudahnya menuntut ilmu. Sebab itu ketika kita mengalami kesulitan belajar maka lakukanlah introspeksi diri terhadap maksiat apa yang telah kita perbuat. Imam Syafi’i yang tidak sengaja melihat betis perempuan yang berjalan di depannya saja dapat menghilangkan beberapa hapalannya, apa kan lagi dengan kita yang melihat lebih dari itu dengan sengaja. Bahkan dengan kepo menstalking foto-foto mereka di sosial media dengan syahwat, dan dengan mudahnya kita melihat situs-situs porno. Maka jangan heran jika mengalami kesulitan belajar, ilmu menjadi sulit dicerna dan dihapal. Sebab ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberi kepada ahli maksiat. Oleh karena itu, bagi kita penggiat ilmu hendaknya senantiasa menjaga pandangan atau gahdul bashar dari hal-hal yang dapat menimbulkan syahwat.
*Penulis adalah alumni Rohis SMAN 2 Mempawah

Wednesday, 8 November 2017

Khilafah Islamiah Vs Faham Komunis, Sama Bahayakah?

 
sumber : https://1.bp.blogspot.com


Akhir-akhir ini seringkali kita mendengar dengungan kaum liberalis yang menyama-ratakan bahaya kebangkitan komunis dengan khilafah islamiah. Ini merupakan penyama-rataan yang salah kaprah dan merupakan upaya doktrinisasi untuk menjauhkan nilai-nilai islam dan cita-cita kebangkitan islam ( khilafah ) di hati umat islam, atau lebih tepatnya agar umat islam sendiri menjadi benci dengan khilafah. Untuk menjawab penyamaan-penyamaan yang dilakukan oleh kaum liberalis tersebut, sebaiknya kita jawab dengan memberikan perbandingan fakta sejarah ketika kebangkitan islam tegak dan ketika kebangkitan komunis tegak.

Agama islam dibawa oleh nabi Muhammad yang lahir pada 12 Rabiul Awwal tahun gajah atau bertepatan dengan 20 April 571 Masehi , sosok yang sedernana, santun tutur katanya, mandiri, serta senang tolong-menolong dan dapat dipercaya. Agama islam lahir sejalan turunnya wahyu pertama yang disampaikan oleh malaikat jibril kepada nabi Muhammad pada tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 Masehi. Agama islam yang awalnya disebarkan secara sembunyi-sembunyi, seiring berjalannya waktu Allah perintahkan untuk disampaikan secara terang-terangan. Dakwah yang disampaikan secara terang-terangan menimbulkan gejolak di kalangan kaum Quraisy. Cacian, intimidasi, penyiksaan, hingga pemboikotan dari sisi perekonomian terus-menerus dilakukan oleh kaum Quraisy terhadap umat islam. Dakwah yang santun berbalas dengan kekerasan.

Ini terus berlanjut hingga turunlah perintah hijrah ke madinah. Di madinah umat islam diterima dengan sangat baik. Dakwah yang santun, bukan dengan pembebasan dan kekerasan berimbas pada berbondong-bondongnya orang-orang Madinah datang untuk memeluk agama islam. Di madinah nabi membentuk tatatan masyarakat baru, kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum Anshar. Bangsa yahudi dan bangsa arab yang belum menganut agama islam dijamin keberadaannya. Hal ini tertuang dalam Piagam Madinah yang isinya sebagai berikut :
- Kaum Yahudi bersama kaum muslimin wajib turut serta dalam peperangan.
- Kaum Yahudi dari Bani Auf diperlakukan sama kaum muslimin.
- Kaum Yahudi tetap dengan Agama Yahudi mereka, dan demikian pula dengan kaum muslimin.
- Semua kaum Yahudi dari semua suku dan kabilah di Madinah diberlakukan sama dengan kaum Yahudi Bani Auf.
- Kaum Yahudi dan muslimin harus saling tolong menolong dalam memerangi atau menghadapi musuh.
- Kaum Yahudi dan muslimin harus senantiasa saling berbuat kebajikan dan saling mengingatkan ketika terjadi penganiayaan atau kedhaliman.
- Kota Madinah dipertahankan bersama dari serangan pihak luar.
- Semua penduduk Madinah di jamin keselamatanya kecuali bagi yang berbuat jahat”.

Demikian pula jika kita mempelajari peristiwa-peristiwa pembebasan yang pernah dilakukan oleh umat islam. Bermula ketika pembebasan kota mekkah. Pembebasan ini merupakan pembebasan yang terjadi disebabkan oleh bani bakr yang bersekutu dengan kaum Quraisyh melanggar perjanjian damai hudaibiyah yang dibuat bersama dengan menyerang bani khuza’ah yang bersekutu dengan kaum muslimin. Atas pengkhianatan ini, kaum Quraisy bukannya memilih denda ataupun memutuskan hubungan dengan bani bakr sebagaimana yang ditawarkan oleh kaum muslimin sebagai akibat bani bakr yang telah melanggar perjanjian damai, melainkan justru memilih membatalkan perjanjian hudaybiah dan atas dasar itulah terjadinya pembebasan kota mekkah. Umat islam dengan 10.000 pasukan telah bersiap untuk menyerang kota mekkah dan tepatnya pada tanggal 1 Januari 630 M kota mekkah berhasil ditaklukkan dengan damai, tanpa peperangan.

Agama islam terus berkembang berlanjut dengan kepemimpinan khulafa urrasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiah, hingga kekhalifahan terakhir Ottoman. Bisa kita lihat bagaimana damainya ajaran islam pun pada saat masa pembebasan dan peperangan. Kita ingat kembali kisah pembebasan palestina untuk kedua kalinya yang dilakukan oleh Salahuddin Al-Ayyubi. Paska pembebasan, Shalahuddin masuk ke bumi Palestina dengan penuh kedamaian. Sikapnya yang lemah lembut dan penuh toleransi berhasil merobohkan persepsi buruk betapa kejamnya Salahuddin Al-Ayyubi di mata tentara salib. Di akhir pembebasan, pujian terhadap santunnya akhlak salahuddin al-Ayyubi bukan hanya didengungkan di kalangan umat islam saja, pun Raja tentara salibpun turut mengakui keluhuran budinya. Seluruh masyarakat palestina dengan segala Ras dan agama diberi hak yang sama, saling menjaga dan saling toleransi membangun tatanan palestina yang baru, tanpa tirani.

Selanjutnya kita pelajari kembali bagaimana Muhammad Al-Fatih menaklukkan konstantinopel. Setelah pembebasan terjadi apakah masyarakat konstantinopel yang tidak seakidah dengan ras yang berbeda dizalimi dan diintimidasi? Sejarah secara gamblang mencatat peristiwa paska pembebasan. Ketika Muhammad Al-Fatih berhenti di depan gereja besar. Didapatinya masyarakat Konstantinopel yang berlindung dan khawatir akan keselamatannya. Mereka teringat kejadian masa lalu di hari yang sama, ketika masyarakat muslim dibantai saat wilayahnya dikuasai. Namun Al-Fatih berkata, “Pergilah kalian wahai warga Konstantinopel yang ingin keluar dari sini, dan yang ingin tinggal maka kita bangun negeri ini bersama-sama”.

Muhammad Alfatih tidak mengatakan “pergilah atau masuk ke dalam islam” terhadap bangsa yang ditaklukinya, melainkan melindungi dan mengajak mereka bersama-sama membangun tatanan konstantinopel yang baru. Pun di Indonesia, islam masuk dengan damai melalui jalur perdagangan dan pernikahan serta dakwah yang santun. Dan ketika umat islam menjadi mayoritas di Indonesia, apakah yang minoritasnya dipinggirkan? Di Aceh yang menerapkan syari’at islam apakah lantas yang minoritas ditindas?. Pancasila lahir di tengah-tengah pemikiran umat islam. Lihat bagaimana kemurahan hati umat islam mayoritas ketika terjadi perbedaan pendapat pada sila pertama usulan Muhammad Yamin yang kini menjadi piagam Jakarta. Atas dasar toleransi umat islam yang mayoritaslah rumusan sila pertama tersebut diubah redaksinya hingga lahirlah sebagaimana pancasila  yang masih kita junjung tinggi sekarang.

Berbeda dengan ketika komunis berkuasa. Di China, di Kamboja, bahkan di Indonesia, atau di Negara-negara komunis lainnya. Sebuah artikel yang ditulis oleh Abdullah Manshur di majalah Turkistan, Al Islamiyah, menceritakan bagaimana kejahatan rezim Komunis Cina di Turkistan Timur. Di bawah kepemimpinan Mao Tse Tung, komunis china telah membantai sebanyak 4,5 juta Muslim. Mereka juga mengembargo ekonomi kaum Muslimin di Uighur di Turkistan Timur, melarang mereka untuk menduduki jabatan di pemerintahan, mencegah mereka dari berhubungan dengan kaum Muslimin lainnya di luar Turkistan, serta melarang mereka untuk pergi ke luar negeri.

Beda lagi ketika Komunis Khmer Merah berkuasa di kamboja. Ketika berkuasa, banyak penduduk kamboja yang ditangkap, disiksa, dan dibunuh oleh aparat Negara mereka sendiri. Tercatat selama khmer merah berkuasa, setidaknya sebanyak 2 juta jiwa rakyat kamboja meninggal dunia. Dan di Indonesia dapat kita lihat sendiri fakta sejarahnya ketika pemberontakan PKI 1948 di madiun dan ketika pemberontakan partai komunis Indonesia 30 September 1965, saksikan berapa banyak ulama, jenderal, dan masyarakat sipil kita yang terbunuh oleh kekejaman partai komunis Indonesia. Semua kisah diatas bukan merupakan dongeng dan isapan jempol belaka, adalah fakta yang telah terbukti kebenarannya.
Sebab itu, sangat tidak layak jika kebangkitan umat islam dan khilafah Islamiyah disandingkan dengan ideologi komunis. Kita boleh tidak setuju dengan konsep khilafah, tapi hendaklah tidak mencela mereka yang mendambakan konsep khilafah itu sendiri dengan menyama-nyamakan mereka layaknya ISIS dan komunis yang untuk menegakkan ideologinya menggunakan cara-cara yang tidak berprikemanusiaan. Khilafah islamiah adalah ideologi yang santun, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan bahkan dalam situasi perang sekalipun.


Aspek Sosial dan Spiritualitas dalam Rangkaian Tradisi Robo-Robo

sumber : http://www.pontianakpost.co.id/sites/default/files/field/image/robo.jpg

Hari rabu terakhir bulan Safar adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat pesisir Kabupaten Mempawah, khususnya yang tinggal di Muara Kuala Mempawah. Pada hari tersebut terdapat tradisi yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh masyarakat Kabupaten Mempawah, yaitu tradisi Robo-robo.
Tradisi Robo-robo merupakan napak tilas dari perjalanan Raja Opu Daeng Manambon beserta istrinya, Putri Kesumba dari Kerajaan Matan Sukadana (Kabupaten Ketapang) ke Kuala Mempawah untuk menerima titah kerajaan dari Putri Cermin. Istrinya, Putri Kesumba merupakan cucu dari Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan dari Patih Gumantar dari Kerajaan Bengkulu Rajank Mempawah. Kedatangan Opu beserta istrinya ke kuala Mempawah tersebut terjadi pada hari rabu terakhir bulan Safar. Mereka disambut baik oleh masyarakat. Karena senang mendapat sambutan yang cukup baik, Opu Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada masyarakat di pinggir sungai Kuala Mempawah. Selanjutnya, Raja opu daeng Manambon memanjaatkan do’a kepada Allah agar dihindarkan dari mala petaka. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama antara robongan kerajaan dengan masyarakat di pinggir sungai Kuala Mempawah.

Tradisi makan bersama ini terus dilestarikan oleh masyarakat Kabupaten Mempawah dan dinamakan dengan nama tradisi tolak bala. Tradisi tolak bala ini dilakukan dengan melakukan do’a dan makan bersama di tempat-tempat lapang seperti jalan-jalan desa, gang-gang maupun di sekolah-sekolah. Dalam tradisi ini masyarakat membaur. Tua, muda, kaya dan miskin membentuk barisan rapi di setiap jalan-jalan, dan gang-gang desa Kabupaten Mempawah.

Tradisi tolak bala pada rangkaian tradisi robo-robo ini memuat nilai-nilai spiritual dan sosial yang sepatutnya dijadikan pembelajaran bagi pemimpin-pemimpin di negeri ini. Dari sisi spiritualitas, seorang pemimpin harus sadar betul bahwa satu kerajaan, daerah, lebih luasnya lagi dalam lingkup Negara, tidak akan dapat maju, tenteram dan aman tanpa pertolongan dari Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang dilakukan oleh Raja Opu Daeng manambon ketika akan menerima titah kerajaan yaitu dengan memanjatkan do’a agar dijauhkan dari bala dan mara bahaya. Bukan dengan bereuforia, dengan berpesta pora dan segala bentuk kesenangan lainnya. Beliau sadar betul ada kuasa yang lebih tinggi, yang karena kehendaknya kita bisa mendapatkan kebahagian, juga karena kehendaknya kita dapat mendapatkan kesengsaraan dan mala petaka.

Dari aspek sosial, Raja Opu Daeng Manambon yang melakukan makan bersama dengan masyarakat di pinggir sungai Kuala Mempawah mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu membaur dan memasyarakatkan diri dengan rakyatnya. Bukan menampilkan kesenjangan seolah Ia mempunyai kedudukan, merasa gengsi jika makan bersama dengan rakyat jelata.

Hal ini sangat sulit ditemui pada sosok pemimpin di masa ini. Jangankan untuk makan bersama dengan rakyatnya, untuk bertemu saja sudah susah. Mereka peduli dengan rakyatnya, blusukan di desa-desa hanya ketika sedang kampanye saja. Setelah itu, jangankan untuk makan bersama, untuk bertatap muka saja sudah sedemikian sulitnya. Mereka lebih senang makan di restoran-restoran mewah, dengan orang-orang yang hebat-hebat pula lengkap dengan ajudan-ajudannya. Kiri kanan mereka dijaga, yang tidak berkepentingan dilarang mendekat. Rakyat yang dulu memilihnya, kini bak rakyat jelata yang tak ada artinya. Mereka hanya sibuk dengan urusan perut, lupa dengan penderitaan rakyat. Membuat kebijakan sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat.

Berbeda cerita namun dalam satu hikmah, pemimpin yang merakyat dapat pula kita pelajari dari sosok Khalifah Umar bin Khattab. Kala itu tanah arab sedang mengalami masa paceklik. Lahan kekeringan, hewan ternak banyak yang mati, dan rakyat menderita kelaparan. Untuk mengetahui penderitaan rakyatnya, Umar bin Khattab ditemani Aslam melakukan perjalanan malam hari di perkampungan terpencil yang terletak di gurun sepi. Saat memasuki daerah tersebut, Khalifah umar bin Khattab terkejut mendengar isak tangis dari sebuah gubuk tua. Dihampirinya gubuk tersebut dan ditemuinya perempuan tua yang sedang memasak. Tampak pula dihadapan Umar seorang anak perempuan yang sedang menangis. Kemudian Umar bertanya mengapa anak perempuan tersebut menangis. Perempuan tua tersebut menerangkan bahwa anak tersebut menangis karena kelaparan. Khalifah umar terperanjat lantas kemudian ditanyanya apa yang sedang dimasak oleh perempuan tua tersebut. Alangkah terkejutnya umar ketika melihat, apa yang dimasak oleh perempuan tua tersebut adalah batu.

Setelah mendengar keluhan dari perempuan tua tersebut, khalifah umar langsung bergegas kembali ke madinah untuk membawakan sekarung gandum lalu memikulnya sendiri. Melihat hal tersebut, Aslam lalu menawarkan diri untuk membantu Umar. Bukannya senang atas bantuan tersebut, khalifah Umar malah marah dan berkata “Wahai Aslam, apakah engkau mau menjerumuskan aku ke dalam api neraka. Apakah engkau kira setelah menggantikan aku memikul karung ini maka engkau akan memikul beban ku nanti di akhirat kelak? “. Aslam pun tertegun mendengar hal itu. Ia sadar betul bahwa kepemimpinannya kelak akan dipertannggung-jawabkan kepada pencipta. Demikianlah keteladanan Khalifah Umar yang dapat kita contoh bersama terkhusus bagi pemimpin di negeri ini.

Melalui tradisi tolak bala yang dilakukan dengan makan dan do’a bersama oleh Raja Opu Daeng Manambon, beserta kisah Khalifah Umar Bin Khattab diatas, memberikan hikmah bahwa pemimpin sepatutnya memasyarakatkan diri dengan rakyatnya, membaur agar dapat mendengarkan keluh kesah dan penderitaan rakyat. Bukan malah duduk tenteram di kantor, bergelimangan harta dengan fasilitas mewah. Melupakan bahwa dirinya hanyalah sebatas wakil rakyat yang harus kembali dan menemani rakyat. Disamping itu, seorang pemimpin harus mampu menampilkan nilai-nilai spiritualitas, harus senantiasa tunduk dan berserah diri pada kuasa pencipta, bukan dengan bersombong diri, bertinggi hati. Ikhtiar itu perlu, namun jangan lupa berserah diri pada Sang Maha segalanya.